LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK
PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH

Disusun Oleh : Kelompok 3
Dwi Utami
Masnelli masry
Risa Luvita Octaviani
Siti Ramdhaniati
Susi Susanti
Kelas : 6C /G2
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2012

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan praktikum PATOLOGI KLINIK ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW yang menjadi suri tauladan hingga akhir zaman.
Dalam penulisan laporan ini, banyak bantuan, dorongan, dan pengarahan dari berbagai pihak, karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa dan membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Kami menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, begitu pula dalam penuyusunan laporan ini banyak kekurangan dan kesalahannya. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang lurus dan diridai-Nya.
Jakarta, 26 Mei 2012

Penyusun,

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh.
Glukosa diperlukan sebagai sumber energi terutama bagi sistem syaraf dan eritrosit. Glukose juga dibutuhkan di dalam jaringan adipose sebagai sumber gliserida-glisero, dan mungkin juga berperan dalam mempertahankan kadar senyawa antara pada siklus asam sitrat di dalam banyak jaringan tubuh
Glukose sebagian besar diperoleh dari manusia, kemudian dibentuk dari berbagai senyawa glukogenik yang mengalami glukogenesis lalu juga dapat dibentuk dari glikogen hati melalui glikogenolsis.
Proses mempertahankan kadar glukosa yang stabil didalam darah merupakan salah satu mekanisme homeostasis yang diatur paling halus dan juga menjadi salah satu mekanisme di hepar, jaringan ekstrahepatik serta beberapa hormon. Hormon yang mengatur kadar glukosa darah adalah insulin dan glukagon. Insulin adalah suatu hormon anabolik, merangsang sintesis komponen makromolekuler sel dan mengakibatkan penyimpanan glukosa.
Glukagon adalah suatu katabolik, membatasi sintesis makromolekuler dan menyebabkan pengeluaran glukosa yang disimpan. Peningkatan glukosa dalam sirkulasi mengakibatkan peningkatan kosentrasi glukosa dalam sirkulasi mengakibatkan peningkatan sekresi insulin dan pengurangan glukagon, demikian sebaliknya.
Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol yang disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah. Meskipun disebut “gula darah”, selain glukosa, kita juga menemukan jenis-jenis gula lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa yang diatur melalui insulin dan leptin.

B. Tujuan
1. Mahasiswa akan dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan kadar glukosa pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal.
2. Menjelaskan nilai normal glukosa serta kadar patologis darihasil praktikum.
3. Mahasiswa akan dapat dapat melakukan diagnosa dini penyakit apa saja yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa dengan bantuan hasil praktikum yang dilakukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup. Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Menurut kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dL dan pada tes sewaktu >200 mg/dL.
Glukosa darah berasal dari absorbsi pencernaan makanan dan pembebasan glukosa dari persediaan glikogen sel. Tingkat glukosa darah akan turun apabila laju penyerapan oleh jaringan untuk metabolisme atau disimpan lebih tinggi daripada laju penambahan. Penyerapan glukosa oleh sel-sel distimulus oleh insulin, yang disekresikan oleh sel-ß dari pulau-pulau langerhans. Glukosa berpindah dari plasma ke sel-sel karena konsentrasi glukosa dalam plasma lebih tinggi daripada di dalam sel.
Diabetes biasanya menunjukkan konsentrasi glukosa abnormal yang tinggi dalam darah, kondisi ini disebut hiperglikemia. Dalam keadaan yang sangat parah atau diabetes yang tidak terkontrol, tingkat glukosa darah mungkin naik sampai sebesar 100 mM atau 25 kali lebih besar dan nilai normalnya kira-kira 4 mM. Seorang yang normal akan segera mencerna glukosa, konsentrasinya tidak akan lebih kira-kira 9 atau 10 mM. Sebab bertambahnya konsentrasi gula darah menyebabkan sekresi insulin oleh pankreas, yang selanjutnya menyebabkan meningkatnya pengambilan glukosa oleh darah.
Pemeliharaan kadar glukosa darah merupakan faktor amat penting, khususnya untuk menjaga fungsi sistem saraf. Kadar gula darah bervariasi, tergantung status nutrisi. Kadar gula normal manusia, beberapa jam setelah makan sekitar 80mg/ 100ml darah, tetapi sesaat sehabis makan meningkat sampai 120mg/100 ml. Glukosa bersama asam lemak adalah molekul-molekul bahan bakar utama pemicu metabolisme makhluk hidup. Organ pengguna bahan bakar terbanyak adalah hati, otak, jantung, otot, dan jaringan adiposa. Mekanisme homeostatik berperan untuk memasukkan glukosa ke dalam sel dan penggunaannya oleh jaringan tubuh. Bila kadar gula turun, mekanisme pelepasan gula simpanan glikogen dalam sel (atau dari glukoneogenesis) terbuka, sehingga kadar normal tetap terpelihara.
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.
Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan.
Ada cara lain untuk menurunkan kadar gula darah yaitu dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga karena otot menggunakan glukosa dalam darah untuk dijadikan energi.
Ada tiga cara untuk mengukur kadar gula darah:
1. Tes gula darah sewaktu.
Tes ini mengukur glukosa dalam darah yang diambil kapan saja, tanpa memperhatikan waktu makan.
2. Tes gula darah puasa.
Tes ini menggunakan contoh darah yang diambil saat kita tidak makan atau minum apa pun (kecuali air putih) selama sedikitnya delapan jam.
3. Tes toleransi glukosa.
Tes ini dimulai dengan tes gula darah puasa, kemudian kita diberikan minuman yang manis yang mengandung gula dengan ukuran tertentu.
Kadar gula darah lalu diukur dengan menggunakan beberapa contoh darah yang diambil pada jangka waktu yang tertentu. Di Indonesia, yang lebih sering dilakukan adalah tes gula darah setelah makan. Juga dimulai dengan tes gula darah puasa, kemudian kita diminta untuk makan seperti biasa, dan darah kita akan diperiksa lagi dua jam kemudian. Jika gula darah kita terlalu tinggi, kita mungkin diabetes. Terapi untuk diabetes meliputi mengurangi berat badan, mengatur pola makanan, dan olahraga. Bisa juga termasuk obat atau suntikan insulin.
Menurut Villee (1999), bahwa sekresi insulin dan glukagon dikontrol oleh kadar glukosa dalam darah. Jika kadar glukosa dalam darah naik (umpama setelah makan), maka sekresi insulin terangsang dan bekerja untuk mengembalikan kadar glukosa dalam keadaan normal.
Dalam otot rangka insulin akan meningkatkan pemasokan glukosa ke dalam sel otot yang juga menstimulasi sintesis glikogen. Dengan demikian simpanan glikogen dalam sel otot meningkat. Penyerapan asam amino ke dalam hati, otot dan jaringa adipose juga meningkat setelah makan sebagai respon adanya insulin.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1. Alat dan Bahan
• Darah manusia
• Lanset steril/semprit 2ml
• Kapas alkohol 70%
• Tabung reaksi
• Zentrifugen mikro
• Fotometer klinikal varta 506

2. Prosedur Kerja
1. Dilakukan dengan dua pengukuran glukosa darah yaitu glukosa darah sewaktu dan glukosa darah puasa
2. Pengambilan darah
Darah diambil kira-kira 1ml (tanpa puasa atau dengan puasa), kemudian darah tersebut disentrifuge pada putaran 4000 rpm selama 15 menit agar diperoleh serum darah
3. Penetapan kadar glukosa darah
 Atur alat ke nol dengan reagen blanko
 Masukkan kedalam kuvet
Blanko Reagen Sampel
Reagen (ml) 1,0 1,0
Sampel (µl) – 10

 Ambil plasma sebanyak 10 µl, lalu dicampur reagen ( pereaksi glukosa kit) sebanyak 1000 µl
 Kemudian divorteks dan diinkubasi selama 5 menit pada suhu 370C atau 10 menit pada suhu 20-250C
 Kemudian diukur kadarnya menggunakan fotometer klinikal

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

No. Nama Mahasiswa Kadar glukosa darah
1. Iva 171,60 mg/dl
2. Febi 87,63 mg/dl

2. Pembahasan
Pada saat praktikum, hasil yang diperoleh yaitu Iva didapatkan hasil kadar gula darahnya 171, 60 mg/dl, ini menunjukan bahwa kadar gula darah normal, sedangkan pada Febi didapatkan hasil kadar gula darahnya 87, 63 mg/dl bisa dikatakan mengalami hipoglikemia atau kadar gula darahnya rendah. Bila level gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah kondisi yang bisa fatal yang disebut hipoglikemia. Gejala-gejalanya adalah perasaan lelah, fungsi mental yang menurun, rasa mudah tersinggung, dan kehilangan kesadaran. Bila levelnya tetap tinggi, yang disebut hiperglikemia, nafsu makan akan tertekan untuk waktu yang singkat. Hiperglikemia dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan yang berkepanjangan pula yang berkaitan dengan diabetes, termasuk kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf.
Kadar gula darah normal (Normoglycaemia) dikatakan sebagai suatu kondisi dimana kadar glukosa darah yang ada mempunyi resiko kecil untuk dapat berkembang menjadi diabetes atau menyebabkan munculnya penyakit jantung dan pembuluh darah.
IGT oleh WHO didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang mempunyai resiko tinggi untuk terjangkit diabetes walaupun ada kasus yang menunjukkan kadar gula darah dapat kembali ke keadaan normal. Seseorang yang kadar gula darahnya termasuk dalam kategori IGT juga mempunyai resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah yang sering mengiringi penderita diabetes. Kondisi IGT ini menurut para ahli terjadi karena adanya kerusakan dari produksi hormon insulin dan terjadinya kekebalan jaringan otot terhadap insulin yang diproduksi.
IFG sendiri mempunyai kedudukan hampir sama dengan IGT. Bukan entitas penyakit akan tetapi sebuah kondisi dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin secara optimal dan terdapatnya gangguan mekanisme penekanan pengeluaran gula dari hati ke dalam darah.
Menurut Siswono (2002) kadar gula darah normal adalah 80-120 mg/dl (pada kondisi puasa), 100-180 mg/dl (kondisi setelah makan), dan 100-140 mg/dl (pada kondisi istirahat/tidur). Beragamnya kisaran gula darah normal di atas, terutama dipengaruhi oleh usia, genetis, dan perbedaan pola makan. Gula darah/glukosa dalam sistem metabolisme tubuh terutama berfungsi sebagai penyedia energi untuk kinerja fungsi otak, sistem saraf pusat, dan sel-sel tubuh. Meningkatnya jumlah penderita diabetes, terutama berkaitan dengan perubahan pola konsumsi karbohidrat, dari pola konsumsi karbohidrat kompleks (dalam bentuk kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan serealia) dan berlemak rendah menjadi pola konsumsi yang cenderung berkadar (karbohidrat sederhana) dan lemak tinggi, serta rendah serat.
Produksi insulin yang tidak cukup mengakibatkan penyakit diabetes mellitus (penyakit kencing manis). Penderita penyakit ini tidak mampu mengatasi kelebihan glukosa dalam darah dengan mengubahnya menjadi glikogen dan lemak. Glikogen dan lemak tubuh diubah menjadi glukosa, yang akan lebih menaikkan kadar gula darah.
Disamping itu, Glukagon juga mendorong peningkatan konsentrasi gula darah; karena itu kegiatannya merupakan kebalikan dari insulin. Peningkatan hiperglikemia glukagon terdapat dalam dua hal. Pertama, glukagon mendorong pengeuraian glikogen hati untuk menghasilkan glukosa darah, dengan mekanisme yang sama dengan adrenalin. Permukaan membran plasma sel-sel hati mengandung reseptor spesifik untuk glukagon. Ketika reseptor ini berikatan dengan hprmon tersebut, adenilat siklase di dalam membran plasma diaktifkan dan timbul suatu mekanisme amplikasi yang serupa dengan yang ditimbulkan oleh adrenalin. Kedua, glukagon, tidak seperti adrenalin, mengahambat perombakan glukosa menjadi laktat oleh glikolisis.
Hasil perhitungan kadar glukosa sampel tersebut jika dibandingkan dengan hasil kadar glukosa darah nilai normal (< 200 mg/dl) maka dapat disimpulkan bahwa sampel Iva pada praktikum ini mempunyai kadar glukosa normal sedangkan pada pada Febi didapat hasil yang rendah 87, 63 mg/dl bisa dikatakan mengalami hipoglikemia atau kadar gula darahnya rendah, atau kemungkinan ada kesalahan teknis, pada saat pengambilan reagen; sambungan kuvet tidak rapat (kendor) sehingga ukuran kurang akurat

BAB III
KESIMPULAN

Dari praktikum yang dilakukan dan hasil pembahasan maka praktikan dapat membuat kesimpulan bahwa:
a) Kadar glukosa darah normal adalah kurang dari 100 mg/dl (pada kondisi puasa), kadar glukosa darah normal adalah kurang dari 200 mg/dl (pd saat tidak puasa).
b) Perbedaan kisaran gula darah normal di atas, terutama dipengaruhi oleh usia, genetis, dan perbedaan pola makan.
c) Kontrol naik dan turunnya gula darah ditentukan oleh hormone Insulin dan glukagon.
d) Produksi insulin yang tidak cukup dan kelebihan glukagon mengakibatkan penyakit diabetes mellitus (penyakit kencing manis).
e) Jika jumlah gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah kondisi yang bisa fatal yang disebut hipoglikemia.

LAMPIRAN HASIL PRAKTIKUM

DAFTAR PUSTAKA
Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/genetics/2228125-pengertian-penyakit-gula-darah/ jam 20:06 wib
Anonimous, 2009. Gula darah. http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah. Akses 18 mei 2009
Kimball, John W. 1983. Biologi, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga
Lehninger, Albert L. 1994. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Nogrady, Thomas. 1992. Kimia Medisinal Terbitan Kedua. Bandung: Penerbit ITB
Siswono, 2002. Glisemik Bahan Pangan Perspektif Baru-Pada Formulasi Produk Pangan untuk Penderita Diabetes. http://www.gizi.net. Akses 18 mei 2009.
Villee, Claude A. 1999. Zoologi Umum Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga