The greatest WordPress.com site in all the land!

Laporan Praktikum-Uji Salmonella

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKRIBIOLOGI-VIROLOGI

 

Disusun oleh :

Masnelli Masri

Muharindi Nurlia

Risa Luvita Octaviani

Rizki Kurniawan

Siti Jamilah

Hery Herwanto

 

Kelompok : 1

Kelas : 3C

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

 

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Dengan segala kerendahan hati, kami menyusun laporan praktikum ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah “Praktikum Mikrobiologi”. Dengan selesainya laporan ini kami tidak lupa mengucapkan terimikasih kepada:Dosen pembimbing praktikum mikrobiologi, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga terselesainya laporan ini. Serta teman-teman yang ikut serta membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini belum sempurna, untuk itu kritik, saran, dan ide-ide yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan penyusunan yang akan datang. Harapan kami semoga laporan ini dapat berguna dan dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Wassalamualaikum Wr, Wb.

Jakarta, 29 Desember 2010

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.         Latar Belakang

Salmonella merupakan kuman berbentuk batang, tidak berspora, dan pada pewarnaan gram bersifat gram negative. Mempunyai ukuran 1-3.5µm x 0.5-0.8µm. salmonella dapat tumbuh cepat pada media yang sederhana tetapi mereka hamper tidak pernah memfermentasikan laktosa atau sukrosa. Salmonella biasanya akan memberikan sifat positif dengan mengeluarkan bau gas H2S dan adanya gelembung pada tabung reaksi. Dan salmonella tahan dalam air yang membeku pada periode yang lama, dan salmonella pun tahan terhadap bahan kimia tertentu.

Salmonella yang merupakan bakteri gram negatif, dapat menyebabkan penyakit demam tifoid, yaitu penyakit infeksi yang disebabkan oleh salmonella typhi atau salmonella paratyphi. Yang mempunyai tanda – tanda khas berupa perjalanan yang cepat yang berlangsung lebih kurang 3 minggu disertai demam, toksemia, gejala – gejala perut, pembesaran limpa dan erupsi kulit. Dan penyakit tifus (Typhus Abdominalis) adalah infeksi penyakit akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran. Selain itu Salmonella mungkin paling dikenal sebagai penyebab keracunan makanan bakteri.

Salmonella banyak ditemui pada makanan-makanan yang tidak dibuat atau diproduksi secara higiens, oleh karena itu sebaiknya kita menghindari ataupun mengurangi makanan yang kurang higienis.

  1. 2.      Tujuan
  2. Agar dapat mengidenifikasi salmonella pada bahan pangan, baik yang sudah jadi, setengah jadi, dan belum jadi.
  3. Agar dapat mengetahui bentuk dan morfolgi dari salmonella.
  4. Agar dapat mengetahui barapa banyak salmonella yang terdapat pada makanan.
  5. Agar dapat mengetahui jenis salmonella apa yang terdapat pada makanan yang kita uji.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bakteri Salmonella ditemukan pertama kali oleh Theobald Smith pada 1885 saat meneliti penyakit pencernaan pada babi. Dengan menggunakan mikroskop, Smith menemukan sekelompok bakteri berbentuk batang yang menyebabkan kematian hewan ternak tersebut.

Nama Salmonella sendiri baru diberikan oleh Daniel Edward Salmon, rekan Smith yang melakukan penelitian lebih lanjut terhadap jenis bakteri tersebut. Salmon menyimpulkan bahwa bakteri salmonella termasuk dalam genus bakteri enterobakteria gram-negatif, berbentuk batang, bisa bergerak bebas dan menghasilkan hidrogen sulfida, serta menjadi penyebab timbulnya penyakit salmonellosis.

Salmonella merupakan kuman gram negatif, tidak berspora dan panjangnya bervariasi. Kebanyakan species bergerak dengan flagel peritrih. Salmonella tumbuh cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak meragikan sukrosa dan laktosa. Kuman ini merupakan asam dan beberapa gas dari glukosa dan manosa. Kuman ini bisa hidup dalam air yang dibekukan dengan masa yang lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu misalnya hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium dioksikholat. Senyawa ini menghambat kuman koliform dan karena itu bermanfaat untuk isolasi salmonella dari tinja.

Klasifikasi Salmonella thyposa

Kingdom            : Bakteria

Phylum               : Proteobakteria

Classis                : Gamma proteobakteria

Ordo                   : Enterobakteriales

Familia               : Enterobakteriakceae

Genus                 : Salmonella

Species               : Salmonella thyposa

Salmonella digolongkan ke dalam bakteri gram negatif sebab salmonella adalah jenis bakteri yang tidak dapat mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara gram negatif tidak.

Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal ditambahkan setelah metal ungu, yang membuat semua gram negative menjadi berwarna merah/merah muda. Pengujian ini berfungsi mengelompokkan kedua jenis bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka. Banyak species bakteri gram negative bersifat patogen ( penyebab penyakit) yang berarti mereka berbahaya bagi organisme inang. Sifat patogen ini berkaitan dengan komponen tertentu pada dinding sel gram negative terutama lapisan lipopolisakarida atau dikenal sebagai endotoksin.

Salmonellosis

Bakteri Salmonella berkembang pada saluran pencernaan binatang seperti babi, sapi, dan ayam. Bakteri tersebut kemudian menyebar melalui makanan hingga menginfeksi manusia. Tak jauh beda dengan binatang, saat menginfeksi manusia, Salmonella bersarang di saluran pencernaan, mulai dari lambung hingga usus halus. Umumnya, bakteri Salmonella menimbulkan salmonellosis berupa penyakit tifus atau paratifus.

Seseorang yang terinfeksi bakteri Salmonella, akan menunjukkan gejala berupa diare, kram perut, demam dan sakit kepala, mual, bahkan muntah-muntah. Suhu tubuh pun tidak stabil dan cenderung tinggi. Dari masa inkubasi hingga munculnya gejala pertama memakan waktu antara 8-72 jam. Salmonellosis pada manusia cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian. Sangat fatal jika menyerang bayi, balita, ibu hamil, dan orang lanjut usia.

Suhu Hangat

Bakteri Salmonella berkembang baik pada suhu hangat. Karena itu, infeksi salmonella lebih banyak terjadi pada musim panas. Biasanya, bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui media makanan yang tidak dipanaskan dengan benar, misalnya: daging, ayam, telur, atau susu. Atau, bisa juga melewati makanan mentah yang telah terkontaminasi bakteri.

Perkembangan bakteri Salmonella terbilang sangat cepat dan menakjubkan, setiap selnya mampu membelah diri setiap 20 menit sekali pada suhu hangat dan pada media tumbuh yang mengandung protein tinggi. Bisa dibayangkan, satu sel bakteri bisa berkembang menjadi 90.000 hanya dalam waktu 6 jam.

Membahayakan Nyawa

Salmonellosis terutama tifus dan paratifus yang menyerang manusia bisa membahayakan nyawa. Walaupun bakteri tersebut bisa dihambat perkembangannya oleh asam lambung, tapi dalam kondisi tubuh seseorang tidak dalam keadaan vit, atau terlalu lelah, asam lambung tidak mampu mengatasi perkembangan bakteri tersebut.

Seseorang yang terkena salmonellosis biasanya mengeluarkan banyak cairan karena diare dan muntah-muntah. Di sisi lain, nafsu makan dan minum pun menurun drastis karena sensasi rasa mual. Kekurangan cairan yang berlebihan inilah yang menjadi salah satu penyebab kematian.

Selain itu, Salmonella dengan mudah bisa berkembang dan menular kepada orang lain. Sebab, bakteri tersebut terdapat pula pada sisa kotoran, urine, dan muntahan penderita yang dengan cepat bisa mengontaminasi air, udara, dan makanan di sekitarnya. Karena itu, perlu kehati-hatian dan perhatian khusus agar jangan sampai bakteri berkembang dan menulari orang lain. Caranya dengan menjaga kebersihan dan hati-hati dalam mengonsumsi makanan.

Salmonella pada Telur

Salmonella berkembang pada saluran pencernaan ternak, tidak terkecuali pada ayam dan telur. Ayam yang terinfeksi bakteri Salmonella bisa menyebarkan penyakit tersebut lewat daging, telur, baik kulit maupun isinya. Karena itu, hendaknya kita berhati-hati mengonsumsi telur sebab media inilah yang paling banyak menularkan penyakit.

Saat ini, banyak makanan yang dikonsumsi mengandung telur mentah atau setengah matang. Cara mengonsumsi makanan semacam ini sangat rawan terpapar bakteri tersebut. Karena itu, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi telur dalam kondisi matang dan melalui proses pemanasan yang baik agar bakteri Salmonella di dalamnya mati.

Sebenarnya, secara alami, cangkang telur memiliki lapisan yang melindungi isi telur dari paparan bakteri Salmonella. Namun, lapisan tersebut hanya bertahan sekitar 10 hari. Belum lagi kalau lapisan pada bagian luar cangkang tersebut rusak karena air atau cairan lain. Bakteri Salmonella bisa menembus masuk ke dalam isi telur dan berkembang di dalamnya.

Mencegah Penularan

Untuk mencegah penularan Salmonella, sebaiknya jangan mengonsumsi telur dalam keadaan mentah atau setengah matang. Panaskan terlebih dahulu makanan yang hendak dikonsumsi dengan benar. Perlu diketahui bahwa bakteri Salmonella tidak mati hanya dengan disimpan di dalam lemari pendingin, sebab bakteri tersebut mampu bertahan di suhu dingin.

Mungkin Anda menyimpan daging atau telur di dalam lemari pendingin, dan memanaskannya sebelum dikonsumsi. Tapi hendaknya diperhatikan, segera buang bungkus daging dan telur tersebut begitu Anda mengeluarkannya dari lemari pendingin. Jangan sampai bakteri yang melekat di atas benda-benda tersebut kembali mengontaminasi daging atau telur yang sudah Anda panaskan.

Gunakan pisau potong yang berbeda untuk memotong daging mentah dan daging matang yang hendak dikonsumsi. Kontaminasi silang semacam ini sering terjadi, yaitu pisau yang digunakan untuk memotong daging mentah terkontaminasi bakteri, lalu digunakan untuk memotong daging matang yang hendak dikonsumsi. Akibatnya, Salmonella menempel pada daging matang tersebut dan kita makan.

Selain itu, gunakan selalu alat-alat yang bersih dan steril. Cuci barang-barang tersebut sebelum Anda menggunakannya. Kalau perlu, rebuslah dulu dalam suhu mendidih agar bakteri benar-benar mati.

Patogenitas

Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui makanan (foodborne diseases). Pada umumnya, serotipe Salmonella menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella disebut salmonellosis. Ciri-ciri orang yang mengalami salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-72 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala lainnya adalah demam, sakit kepala, mual dan muntah-muntah. Tiga serotipe utama dari jenis S. enterica adalah S. typhi, S. typhimurium, dan S. enteritidis. S. typhi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever), karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis, yang disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi. Gejala demam tifus meliputi demam, mual-mual, muntah dan kematian. S. typhi memiliki keunikan hanya menyerang manusia, dan tidak ada inang lain. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal kepada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun. Kontaminasi Salmonella dapat dicegah dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi.

Media tumbuh

Untuk menumbuhkan Salmonella dapat digunakan berbagai macam media, salah satunya adalah media Hektoen Enteric Agar (HEA). Media lain yang dapat digunakan adalah SS agar, bismuth sulfite agar, brilliant green agar, dan xylose-lisine-deoxycholate (XLD) agar. HEA merupakan media selektif-diferensial. Media ini tergolong selektif karena terdiri dari bile salt yang berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan beberapa gram negatif, sehingga diharapkan bakteri yang tumbuh hanya Salmonella. Media ini digolongkan menjadi media diferensial karena dapat membedakan bakteri Salmonella dengan bakteri lainnya dengan cara memberikan tiga jenis karbohidrat pada media, yaitu laktosa, glukosa, dan salisin, dengan komposisi laktosa yang paling tinggi. Salmonella tidak dapat memfermentasi laktosa, sehingga asam yang dihasilkan hanya sedikit karena hanya berasal dari fermentasi glukosa saja. Hal ini menyebabkan koloni Salmonella akan berwarna hijau-kebiruan karena asam yang dihasilkannya bereaksi dengan indikator yang ada pada media HEA, yaitu fuksin asam dan bromtimol blue.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.    Alat dan Bahan

1)      Alat     :

  1. Cawan  petri
  2. Tabung reaksi
  3. Pipet volume
  4. Jarum ose
  5. Lampu bunsen

2)       Bahan :

  1. Alkohol 70 %
  2. Akuades
  3. Bahan makanan
  1. B.     Cara kerja
  2. Pengambilan sampel
  3. Pra pengkayaan ( pre-enrichment)

Ambil bahan makanan atau obat tradisional yang akan diujikan masukan ke dalam medium Lactose Broth ( LB) inkubasi 37 0 C selama 24 jam

  1. Pengkayaan selektif

Dipipet masing – masing 5 ml biakan LB ke dalam 50 ml media TBGB ( tetrahionate Brilliant Green Broth ) inkubasi pada suhu 370C selama 24 jam

  1. Isolasi

Dari medium TBGB ambil satu mata ose diinokulasi pada medium BGA pada suhu 370C selama 24 jam. Pada BGA koloni dari tidak berwarna merah, dar transparan hingga keruh dengan lingkaran merah muda hingga merah

  1. Identifikasi

Diambi 2 atau lebih koloni tumbuhan pada suhu 370C selama 18-24 jam. Biakan diduga salmonela positif jika ada TSIA terlihat warna merah pada permukaan agar, warna kuning pada dasar tabung dengan satu atau tanpa pembentukan H2S.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. 1.      Hasil

NO

Pre-Enrichment

Pengkayaan selektif

Isolasi

identifikasi

1

Gorengan tahu : terdapat gas H2S

Hasil negatif,

Tidak didapatkan bakteri tipe salmonella thypi

2

Roti : terdapat gas H2S

3

Lidi-lidian : terdapat gas H2S

  1. 2.      Pembahasan

Pada praktikum uji salmonella, sampel yang digunakan adalah gorengan tahu, roti dan lidi-lidian. Dilakukan lima langkah, yaitu : pengambilan sampel, pre-enrichment, pengkayaan selektif, isolasi dan identifikasi.

Pada pengambilan sampel, setiap sampel diambil 10 g kemudian dilarutkan dengan aquadest steril 10 ml menggunakan vortex mixer. Lalu diambil 1 ml dan dilarutkan dalam medium LB (Laktosa Broth) kemudian diinkubasi. Dari ketiga sampel didapatkan gas H2S yang berarti ketiga sampel mengandung bakteri salmonella.

Pada teori seharusnya setelah didapatkan hasil yang positif pada uji pre-pengkayaan atau pre-Enrichment, dilakukan uji pengkayaan selektif, yaitu diambil sampel pada medium LB dan dimasukkan pada medium TBGB, namun oleh karena keterbatasan bahan maka tahap pengkayaan selektif tidak dilakukan, jadi tahap selanjutnya adalah isolasi, yaitu sampel langsung dipindahkan pada medium BGA. Sampel yang digunakan bukan dari ketiga-tiganya , namun  diambil yang paling bau atau yang paling banyak mengandung gas H2S dari ketiga sampel tersebut.

Pada langkah isolasi dengan menggunakan medium BGA, pada teori hasil yang didapatkan pada medium BGA adalah koloni dari tidak berwarna merah muda hingga merah, dari transfaran hingga keruh dengan lingkaran merah muda hingga merah. Namun praktek hasil negatif atau tidak terjadi pertumbuhan bakteri, ini berarti sampel tidak mengandung bakteri salmonella typhi melainkan bakteri tipe lain. oleh sebab itulah tidak dilakukan uji identifikasi dengan kata lain pengujian hanya sampai isolasi saja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Uji salmonella bertujuan untuk mendeteksi bakteri salmonella sebagai indikator pencemaran makanan.
  2. Pengujian salmonella ada empat : Pra pengkayaan (Pre-enrichment), Pengkayaan selektif, Isolasi, dan Identifikasi.
  3. Parameter uji salmonella adalah terbentuknya gas dari H2S atau yang mempunyai bau yang paling menyengat dan juga keruh.
  4. Pada uji medium BGA adalah koloni dari tidak berwarna merah muda hingga merah, dari transfaran hingga keruh dengan lingkaran merah muda hingga merah. Namun praktek hasil negatif atau tidak terjadi pertumbuhan bakteri, ini berarti sampel tidak mengandung bakteri salmonella typhi melainkan bakteri tipe lain.

DAFTAR PUSTAKA

 

Hidayat S, Hermina, Luciasari E, Dharmawan A dan Susanto Djoko. 1998. Pengaruh Penanggulangan Penyakit Cacingan Terhadap Status Gizi dan Daya Terima Pelajaran Murid Sekolah Dasar. Penelitian Gizi dan Makanan Jilid 21. Depkes. Bogor.

Sihadi. 2004. Makanan Jajanan Bagi Anak Sekolah. Jurnal Kedokteran YARSI.  

Sampurno. 2004. Kegiatan 2003. Diakses dari : http://www.depkes.go.id.

Irawati A, Tjukarni dan Santi D. 1998. Penelitian Pemberian Tambahan PengetahuanGizi dan Kesehatan Pada Murid Sekolah Dasar. Penelitian Gizi dan Makanan Jilid 21. Depkes. Bogor.

Februhartanty, Judhiastuty & Iswarawanti, D.N. 2004. Amankah Makanan Jajanan Anak Sekolah di Indonesia?. Diakses dari: http://www.gizi.net.

Laporan Praktikum- uji cemaran koliform

LAPORAN PRAKTIKUM

UJI CEMARAN KOLIFORM DALAM SEDIAAN CAIR

 

 

Disusun oleh :

Masnelli Masri

Muharindi Nurlia

Risa Luvita Octaviani

Siti Jamilah

Hery Herwanto

Kelompok : 1

Kelas : 3C

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Air minum untuk sebagian besar daerah tempat tinggal dan kota diperoleh dari sumber permukaan sungai, kali dan danau. Persediaan air alamiah semacam itu, terutama kali dan sungai, kemungkinan besar tercemar oleh sampah domestik, pertanian, dan industri. Banyak penduduk kota tidak menyadari bahwa air yang mereka pakai itu telah digunakan sebelumnya. Penggunaan air kembali air merupakan suatu proses alamiah, sebagaimana diperlihatkan dalam siklus hidrologis. Tetapi di masa kini ada pandangan baru mengenai penggunaan kembali air, meningkatnya jumlah penduduk, adanya kebutuhanakan air dalam jumlahbanyak untuk keperluan industri maupun untuk irigasi daerah pertanian, telah menciptakan tuntutan baru terhadap sumber air yang tersedia. Sejalan dengan hal tersebut, telah timbul minat terhadap pengembangan metode-metode yang dapat diterima untuk membuat air “bekas pakai” menjadi aman dan sesuai untuk digunakan kembali.

Kontaminan yang mencemari air digolongkan ke dalam tiga kategori: kimiawi, fisik, dan hayati. Kontaminan-kontaminan tertentu dalam setiap kategori ini dapat mempunyai pengaruh nyata terhadap kualitas air. Dalam bab ini yang akan dibahas ialah kategori hayati.

Karena mempunyai potensi untuk berlaku sebagai pembawa mikroorganisme patogenik, air dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan.

Bakteri golongancol iform merupakan bakteri yang dapat hidup hanya pada usus hewan mamalia termasuk manusia. Penyebaran kotoran baik manusia dan hewan yang tidak terkontrol dalam lingkungan perairan dapat menyebabkan lingkungan perairan tercemar oleh bakteri ini. Untuk mengetahui jumlah sel bakteri golongancoliform yang terdapat dalam sampel air, dilakukan metoda Jumlah Perkiraan Terdekat atau Most Probable Number, untuk menentukan apakah air yang digunakan masih sesuai peruntukannya sebagai air minum atau tidak.

  1. B.     Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mendeteksi keberadaan bakteri golongancoliform dalam air, sehingga mengetahui apakah air dapat dikonsumsi atau tidak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Mengingat bahwa air minum yang digunakan kemungkinan mengandung bakteri patogen maka sebelum digunakan harus diperiksa terlebih dahulu, sebab air minum harus bebas dari bakteri-bakteri patogen tersebut. Untuk pemeriksaan tersebut diperlukan pengujian bakteriologis air di laboratorium. Pengujian ini dapat menentukan air yang diperiksa tersebut mengandung bakteri patogen atau tidak. Alam prakteknya pengujian air secara bakteriologis untuk menentukan ada tidaknya bakteri bentuk koli.

Air tawar bersih yang layak minum, semakin langka di perkotaan. Sungai- sungai yang menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan. Itulah salah satu alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) yang disebut-sebut menggunakan air pegunungan banyak dikonsumsi. Namun, harga AMDK dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif baru yang murah, yaitu penggunaan Air minum isi ulang.

Uji kualitas air Ke dalam parameter mikrobiologis hanya dicantumkan Coli tinja dan total Coliforms.

a. Coli tinja, air yang mengandung coli tinja berarti air tersebut tercemar tinja. Tinja dari penderita sangat potensial menularkan penyakit yang berhubungan dengan air.

b.Total Coliforms, bila air yang tercemar coliform dapat mengakibatkan penyakit-penyakit saluran pernafasan.

Standar Air Minum, menurut standar WHO semua sampel tidak boleh mengandung E. coli dan sebaiknya juga bebas dari bakteri coliform. Standar WHO: Dalam setiap tahun, 95% dari sampel-sampel tidak boleh mengandung coliform dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung E. coli dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung coliform lebih dari 10 dalam 100 ml, Tidak boleh ada coliform dalam 100 ml dan dua sampel yang berurutan (AOAC, 2000). Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain.

Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik.

E. coli jika masuk ke dalam saluran pencernaan dalam jumlah banyak dapat  membahayakan kesehatan. WalaupunE.coli merupakan bagian dari mikroba normal saluran pencernaan, tapi saat ini telah terbukti bahwa galur-galur tertentu mampu menyebabkan gastroeritris taraf sedang hingga parah pada manusia dan hewan.

Sehingga, Air yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti

erbahaya yaitu dapat menimbulkan penyakit infeksius.

Menurut Soetarto (2008), semua organisme selalu membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Hal ini disebabkan semua reaksi biologis yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup berlangsung dalam medium air. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya air. Air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Tetapi sering sekali terjadi pengotoran dan pencemaran air dengan kotoran-kotoran dan sampah. Oleh karena itu air dapat menjadi sumber atau perantara berbagai penyakit seperti tipus, desentri, dan kolera. Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tersebut adalahSalmonella thyphosa, Shigella dysenteriae,dan Vibrio koma.

Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Terdapatnya bakteri coliform dalam air minum dapat menjadi indikasi kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Bakteri coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal coliform. E. coli adalah bagian dari faecal coliform. Keberadaan E. coli dalam air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh tinja. E. coli digunakan sebagai indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan;

a) E. coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan; jarang sekali ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi

b) E. coli mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika pemeriksaan dilakukan dengan benar.

c) Bila dalam air tersebut ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi penggunaan domestik.

d) Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E. coli dalam air tersebut.

Maka, untuk mendapat gambaran yang jelas mengenai kualitas air minum khususnya kandungan bakteri total coli dan Escherichia coli (fecal coli) dalam air minum dari depot air minum dan air minum yang telah tersedia, maka dilakukan penelitian tentang kualitas air minum.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Alat dan Bahan
  2. 1.      Alat

2.Tabung reaksi

3.Jarum Ose

4.Pembakar bunsen

5.Incubator

6.Erlenmeyer steril

7.Pipet

8.Mikropipet

9.Tabung Durham

  1. Cawan petri steril
  2. Gelas ukur steril

2)      Bahan

  1. Sampel air
  2. Media laktosa dengan tabung durham di dalamnya
  3. Media EMBA dan BGBB
  4. Zat warna gram
  1. B.     Prosedur Kerja
  2. 1.      Uji Duga
    1. Inokulum 3 tabung reaksi  berisi 10 ml laktosa cair konsentrasi lipat 2 (Double Strength) dengan masing-masing 10 ml sampel air.
    2. Inokulum 3 tabung reaksi  berisi  masing-masing 10 ml laktosa cair (Single Strength)  dengan masing-masing 1 ml sampel air.
    3. Inokulum 3 tabung reaksi  berisi  masing-masing 10 ml laktosa cair (Single Strength)  dengan masing-masing 0,1 ml sampel air.
    4. Inkubasi piaraan itu dalam incubator pada suhu 37­­oC selama 2×24 jam
    5. Amati setiap 24 jam

Adanya gas setelah 24 jam uji dinyatakan positif. Timbulnya gas setelah 24 jam pertama dikatakan uji dengan hasil meraguakan. Sedangkan tanpa gas setelah 48 jam dikatakan uji negatif, berarti air tidak tercemar benda tinja. Dengan hasil negatif pada uji duga, maka uji penetapan dan uji lengkap tidak perlu dilakukan.

  1. 2.      Uji Penetapan

Pada uji ini semua hasil uji duga positif maupun negatif harus dilakukan.

  1. Buat piaraan goresan pada EMBA atau EA dari piaraan dalam uji duga, dengan inokulum yang paling sedikit dan hasilnya positif.
  2. Inkubasikan piaraan itu dalam incubator suhu 37­­oC selam 2 x 24 jam
  3. Amati pertumbuhan koloni tipikal yang menunjukkan hasil uji positif

 

  1. 3.      Uji Lengkap
    1. Ambil 2 koloni tipikal dari EMBA dan EA dan masing-masing diinokulasikan kedalam laktosa cair dan yang lain digoreskan pada agar miring
    2. Inkubasikan pada incubator suhu 37oC selama 2 x 24 jam
    3. Amati terbentuknya gas di dalam tabung durham setiap 24 jam
    4. Buat pewarna Gram dari piaraan miring NA dan juga pewarnaan spora. terbentuknya  gas dalam waktu 24 jam dan bentuk sel batang serta tidak adanya spora dalam sel, maka mikroba yang ada di dalam air contoh tersebut koliform. Berarti sampel air telah tercemar bahan tinja.

 

 

 

  1. 4.      Lakukan Pewarnaan Gram

Karena bakteri koliform ini meliputi semua bakteri gram negatif, maka salah satu cara untuk mengetahui suatu bakteri yang terkandung dalam larutan (air suling) yaitu dengan cara pewarnaan gram dan di bentuk sel lubang. Maka dapat disimpulkan  apabila air positif tercemar koliform  pada pewarnaan gramnya  akan terbentuk gas warna merah dalam laktosa broth pada saat pewarnaan terakhir oleh zat warna safranin. Dan apabila saat penambahan safranin,  yang tidak terbentuk gas dalam laktosa broth dan berwarna violet maka, air  negatif terdapat koliform.

 

  1. 5.      Cara Kerja Penentuan Coli Fekal dan Non Fekal
    1. Inokulasikan tabung berisi laktosa cair dan tabung durham dengan koloni tipikal pada EMBA
    2. Inkubasikan dalam incubator suhu 44,5oC selama 2 x 24 jam
    3.  Amati terbentuknya gas setiap 24 jam. Terbentuknya gas dalam tabung durham menunjukan bahwa koloni tipikal itu adalah bakteri koliform yang tahap suhu tinggi dan tidal lain adalah E. coli sebagai coli fekal. Artinya bakteri tersebut berasal dari feses baru. Hal itu berkaitan dengan teori yang menyatakan bahwa E. coli tidak dapat hidup lama di luar usus manusia atau hewan berdarah panas lainnya. Sedangkan coli non fekal adalah Koliform selain E.coli yang dapat hidup di lingkungan perairan setelah keluar dari usus. Perairan mengandung coli non fekal berarti pernah tercemar tinja.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil 

Berdasarkan percobaan didapat hasil sebagai berikut :

Uji cemaran bakteri koliform

NO

SAMPEL

UJI DUGA

UJI PENETAPAN

UJI LENGKAP

1

Air isi ulang daerah Salemba Tabung 1 :+ + +

Tabung 2 :

+ + –

Tabung 3 :

+ – –

150 koloni/ml

Koloni Atipikal

Medium LBSS : terdapat gelembung gas.

Medium NA slant : tumbuh koloni.

2

Air isi ulang daerah Klender Tabung 1 :+ + +

Tabung 2 :

+ – –

Tabung 3 :

+ – –

75 koloni/ml

 

  1. B.     Pembahasan  

Sampel yang digunakan pada materi uji bakteri koliform adalah air isi ulang, dilakukan 3 uji, yaitu uji duga, uji penetapan dan uji lengkap.

Pada uji duga, dihasilkan 3 tabung pada medium LBDS yang terdapat gelembung gas, pada medium LBSS yang pertama terdapat 2 tabung saja sedangkan pada medium LBSS yang kedua hanya terdapat 1 tabung saja, maka dari ketiga medium yang masing-masing berisi 3 tabung dihasilkan  3, 2 dan 1. Jika dilihat pada tabel MPN terdapat sebanyak 150 koloni per ml. sedangkan pada sampel yang kedua didapat 3, 1 dan 1(3 tabung yang berisi gelembung gas pada medium LBDS , 1 tabung yang berisi gelembung gas pada medium LBSS yang pertama dan 1 tabung yang berisi gelembung gas pada medium LBSS yang kedua) dan dilihat di tabal MPN didapat 75 koloni per ml.

Pada uji penetapan, koloni yang dihasilkan pada agar itu ada 3 tipe, yaitu

  1. Koloni tipikal, berwarna gelap dan kilap logam di bagian tengah.
  2. Koloni atipikal, tidak berwarna gelap dan tidak ada kilap logam di tengah namun ia berwarna merah muda (pink) dan buram.
  3. Tidak keduanya.

Setelah diamati dari ke Sembilan tabung pada uji duga, diambil medium yang berisi gelembung gas terbanyak dan diinokulasi pada medium EMBA atau EA kemudian diinkubator selama 24 jam dihasilkan koloni yang berwarna merah muda (pink) dan buram, berarti ia marupakan bakteri koliform tipe atipikal.

Namun, untuk memastikan pengamatan tersebut,  dilakukan uji lengkap pada medium LBSS dan NA slant. Setelah diinkubasi selama 24 jam, dilakukan pengamatan, pada medium LBSS dilihat ada atau tidaknya gelembung gas, jika ada, berarti ia merupakan bakteri koliform dan sebaliknya. Pada medium NA slant harus dilakukan pewarnaan gram, namun uji pewarnaan ini tidak dilakukan, jadi hanya pada medium LBSS saja yang diamati. Hasil yang diperoleh pada medium LBSS adalah adanya gelembung gas. Dapat disimpulkan bahwa ia merupakan bakteri koliform yang merupakan koloni atipikal.

Menurut WHO (World Health Organization), kadar standar bakteri koliform yang terdapat pada suatu air minum adalah 10/100 air, jadi air isi ulang pada percobaan diatas tidak layak untuk dikonsumsi.

BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkas sebagai berikut:

  1. Air minum (potable water) : tidak boleh ada Coliform bacilli per 100 ml
  2. Sampel yang digunakan pada materi uji bakteri koliform adalah air isi ulang, dilakukan 3 uji, yaitu uji duga, uji penetapan dan uji lengkap.
  3. Bakteri coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal coliform.
  4. Bakteri kalioform merupakan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai indikator, dimana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah berkontaminasi untuk patogen atau tidak.
  5. Air isi ulang daerah salemba dan daerah klender keduanya mengandung bakteri tipe koloni atipikal, mengandung 150 koloni/ml untuk air dari salemba dan 75 koloni/ml dari klender sedangkan menurut WHO kadar standar bakteri koliform yang terdapat pada suatu air minum adalah 10/100 air, jadi air isi ulang pada percobaan diatas tidak layak untuk dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.

farmakologi jilid II, sekolah menengah farmasi 2005
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia, Jakarta.

http://kumpulanblogger uji cemaran kolioform.com

Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lim,D. 1998. Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill book, New york.

Mila Ermila, 2005, Penuntun Praktikum Mikrobiologi.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.

Fermentasi Tempe

FERMENTASI TEMPE

 

 

Disusun oleh :

Masnelli Masri

Muharindi Nurlia

Risa Luvita Octaviani

Rizki Kurniawan

Siti Jamilah

Hery Herwanto

Kelompok : 1

Kelas : 3C

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

 

ABSTRAK

Tempe adalah bahan pangan sumber protein yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan bantuan peranan jamur. Jamur  yang berperan dalam proses tersebut adalah jamur Rhizopus oligosporus. Tujuan dilakukannya fermentasi adalah menghindari terjadinya flatulensi, yaitu gas yang akan terakumulasi dan menumpuk di lambung. Proses fermentasi membutuhkan waktu yang berbeda-beda tergantung dari cara pengerjaannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FERMENTASI TEMPE

 

 

Pendahuluan: Kedelai merupakan bahan pangan sumber protein nabati utama bagi masyarakat. Masyarakat Indonesia sering mengkonsumsi kedelai karena harganya yang terbilang murah dan mudah didapatkan di pasaran. Akan tetapi, ada masalah utama dalam mengkonsumsi kedelai yaitu tingginya kandungan oligosakarida di dalamnya. Oligosakarida yang tidak tercerna akan difermentasi dalam usus besar oleh mikroflora, sehingga menghasilkan gas yang akan terakumulasi dan menumpuk di lambung yang disebut flatulensi. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena sejumlah penelitian mengatakan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya flatulensi, salah satunya dengan cara fermentasi.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi Rhizopus oligosporus terhadap kadar oligosakarida pada pembuatan tepung tempe kedelai (Glycine max).

Metode Penelitian: Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 (empat) perlakuan dan 3 kali ulangan,

  1. perlakuan P0 (pembuatan tepung tempe dengan fermentasi 0 jam),
  2. perlakuan P1(pembuatan tepung tempe dengan fermentasi 24 jam),
  3. perlakuan P2 (pembuatan tepung tempe dengan fermentasi 48 jam),
  4. perlakuan P3(pembuatan tepung tempe dengan fermentasi 72 jam).

Di dapur, tempe sering dibuat dengan memotong menjadi potongan-potongan, berendam dalam air garam atau asin saus , kemudian goreng . tempe dimasak dapat dimakan sendiri, atau digunakan dalam cabai, aduk frys, sup, salad, sandwich, dan minuman.  Tempe memiliki rasa yang kompleks yang telah digambarkan sebagai gila, daging, dan jamur-suka. Tempe membeku dengan baik, dan sekarang biasanya tersedia di supermarket banyak barat maupun di pasar etnis dan toko makanan kesehatan. Tempe kinerja yang baik dalam parutan keju, setelah itu dapat digunakan di tempat daging sapi tanah (seperti dalam taco). Ketika diiris tipis dan digoreng dalam minyak, tempe mendapatkan sebuah kerak emas renyah sambil mempertahankan interior konsistensi-lembut seperti spons membuatnya cocok untuk bumbu-bumbu. kering tempe (baik dimasak atau mentah) memberikan basis rebus yang sangat baik untuk backpackers.

 

Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ragi tempe”.

Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksi dan pencegah penyakit degeneratif.

Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.

Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten).

Terdapat berbagai metode pembuatan tempe. Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi

Ada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap perendaman.

Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.

Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi.

Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus. Bila pertumbuhan bakteri asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.

Proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya dapat menghambat pertumbuhan fungi.

Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulum dapat berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar Indonesia). Inokulasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2) inokulum dapat dicampurkan langsung pada saat perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan.

Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.

Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.

Hasil fermentasi kedelai oleh kapang Rhizopus oryzae atau Rh. Microsporus.  Produk fermentasi menguntungkan karena dekomposisi kedelai oleh kapang akan menghasilkan senyawa-senyawa sederhana yang lebih mudah diserap tubuh. Oleh sebab itu Nilai gizi tempe lebih tinggi dari kedelai.

Rhyzopus       : kapang ini memiliki beberapa kelompok jenis, namun yang umum dapat digunakan dalam fermentasi tempe adalah Rhizopus oryzae dan Rh. Microsporus grup.  Struktur miselia dari keduanya kompak dan rapat sehingga pertumbuhan kapang pada biji kedelai dapat membentuk cake.  Kpang Rhizopus oryzae dan Rhizopus Microsporus grup juga dapat bertahan tumbuh pada suhu di atas 36o C.  Kemampuan ini penting karena selama fermentasi akan timbul panas hasil metabolisme kapang.

Kapang Rhizopus merupakan genus dari kelas Zygomycetes yang memiliki kemampuan untuk menghjasilkan spora seksual zygospora.  Kapang tersebut masuk ke dalam ordo Mucorales yang menghasilkan spora aseksual sporangiospora dalam suatu struktur berbentuk kantung yang disebut sporangium.  Kantung sporangium didukung oleh hifa generatif yang disebut sporangifor dan tidak bercabang.  Bagian dekat ujung sporangiofor sedikit melebar (apofisa) dengan ujung terminal menggelembung membentuk kolumela.  Ujung berlawanan dari kolumela akan membentuk struktur seperti akar yang disebut rhizoid.

Jamur (Kapang) merupakan tumbuhan tingkat rendah yang tidak berklorofil sehingga tidak mampu membentuk makanan sendiri. Dalam sistem mata rantai makanan, jamur merupakan makhluk konsumen. Untuk itu, kehidupan jamur sangat tergantung pada substrat yang dapat menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Jamur menyerap zat makanan dari lingkungan hidupnya melalui system hifa dan miselium. (Anonim. 2008)

Kapang tempe ( Rhizopus oligosporus & Rhizopus oryzae ) termasuk golongan jamur, di dunia diperkirakan terdapat 100.000 jenis jamur. Pada dasarnya dunia jamur dibagi atas 3 kelompok besar, yaitu divisi Mycomycota, Oomycota,dan Eumycota. Anggota divisi Myxomycota mempunyai tubuh vegetative menyerupai lender dan merayap seperti amoeba.

Kapang (Rhizopus sp.) bersifat aerob obligat, berarti kapang membutuhkan oksigen untuk hidup, selain oksigen kapang itu juga memerlukan suhu dan kelembapan yang cocok. Dari pengamatan yang kelompok kami lakukan, bahan kedelai masak calon tempe harus cukup mengandung air. Apabila sewaktu memasaknya terlalu kering maka kelembapan akan berkurang dan mengakibatkan.

Inokulum   : ragi tempe pada pengrajin tempe umumnya disiapkan secara tradisional sehingga banyak mengandung mikroorganisme lain.  Namun hanya kapang Rhizopus saja yang sesungguhnya berperan dalam fermentasi tempe.  Inokulum tempe dapat mengandung sediaan tunggal Rhizopus atau dapat lebih dari satu jenis Rhizopus.  Biakan tunggal dapat lebih menguntungkan dipandang dari kestabilan kualitas produk yang dihasilakan.  Namun rasa produk yang dihasilkan dari biakan tunggal adakalanya tidak sebaik dari mixed culture.  Rasa dan aroma dari fermentasi oleh mixed culture akan lebih kaya karena metabolit yang dihasilkan lebih bervariasi.

Starter tempe adalah bahan yang mengandung biakan jamur tempe, digunakan sebagai media pengubah kedelai rebus menjadi tempe akibat tumbuhnya jamur tempe pada kedelai dan melakukan kegiatan fermentasi yang menyebabkan kedelai berubah kareakteristik menjadi tempe.

Menurut Hidayat (2006), kualitas tempe dipengaruhi oleh kualitas starter yang digunakan untuk inokulasinya. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi atas kualitas jamur starter yang baik untuk dipakai sebagai starter tempe antara lain :

1. Mampu memproduksi spora dalam jumlah banyak.

2. Mampu bertahan beberapa bulan tanpa mengalami perubahan genetis

maupun kemampuan tumbuhnya.

3. Memiliki persentase perkecambahan spora yang tinggi segera setelah

diinokulasikan.

4. Mengandung biakan jamur yang tempe yang murni, dan bila digunakan

berupa kultur campuran harus mempunyai proporsi yang tepat.

5. Bebas dari mikrobia kontaminan.

6. Mampu menghasilkan produk yang stabil berulang-ulang.

7. Pertumbuhan miselia setelah diinokulasi harus kuat, lebat berwarna putih bersih, memiliki aroma spesifik tempe yang enak, dan tidak mengalami sporulasi yang terlalu awal.

 

Starter yang digunakan dalam pembuatan tempe kali ini adalah Rhizopus oligosporus. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa pada tempe tersebut ditumbuhi oleh lapisan putih menyerupai kapas. Lapisan putih tersebut merupakan miselium dan hifa dari kapang tersebut, sehingga tampak jalinan serat- serat putih yang sangat banyak mengelilingi kedelai yang difermentasi. Jalinan serat ini lah yang merombak komponen kimia yang terkandung dalam kedelai.

Starter (inokulum) tempe merupakan kumpulan spora kapang tempe yang digunakan untuk bahan pembibitan dalam pembuatan tempe. Tanpa ragi sebagai benih kapangnya, kedelai yang difermentasi akan menjadi bahan busuk. Ragi adalah suatu benda yang mengandung benih kapang tempe. Dalam pembuatan tempe, ragi dicampurkan pada kedelai yang telah dimasak, di tiriskan kemudian didinginkan. Penggunaan ragi yang baik sangat penting untuk menghasilkan tempe yang bermutu baik.

Laporan Praktikum – KHM antibiotik

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKRIBIOLOGI-VIROLOGI

 

 

Disusun oleh :

Masnelli masri

Risa luvita octaviani

Siti Jamilah

Muharindi Nurlia

Rizki Kurniawan

Hery Herwanto

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

 

 

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Dengan segala kerendahan hati, kami menyusun laporan praktikum ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah “Praktikum Mikrobiologi”. Dengan selesainya laporan ini kami tidak lupa mengucapkan terimikasih kepada:Dosen pembimbing praktikum mikrobiologi, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga terselesainya laporan ini. Serta teman-teman yang ikut serta membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini belum sempurna, untuk itu kritik, saran, dan ide-ide yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan penyusunan yang akan datang. Harapan kami semoga laporan ini dapat berguna dan dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Wassalamualaikum Wr, Wb.

 

 

Jakarta,03 Desember 2010

 

Penyusun

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.      Latar Belakang

Antimikroba adalah obat yang digunakan untuk memberantas infeksi mikroba pada manusia. Sedang antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme (khususnya dihasilkan oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan bakteri dan organisme lain.

Dilihat dari daya basminya terhadap mikroba, antibiotika dibagi manjadi 2 kelompok yaitu yang berspektrum sempit dan berspektrum luas. Walaupun suatu antibiotika berspektrum luas, efektifitas klinisnya tidak seperti apa yang diharapkan, sebab efektifitas maksimal diperoleh dengan menggunakan obat terpilih untuk infeksi yang sedang dihadapi, dan bukan dengan antibiotika yang spektrumnya paling luas.

Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antibiotika. Sifat ini bisa merupakan suatu mekanisme alamiah untuk tetap bertahan hidup. Timbulnya resistensi pada suatu strain mikroba terhadap suatu antibiotika terjadi berdasarkan salah satu atau lebih dari mekanisme.

Berbagai metode untuk mengukur Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dari suatu senyawa antifungi dikembangkan karena metode tersebut bertumpu pada kepraktisan dan keekonomisan. Penelitian ini mengembangkan metode pengujian KHM antifungi berdasarkan metode Trinder menggunakan kit Glukosa Oksidase (GOD) dengan rasio sampel terhadap pereaksi sebesar 1:5. Metode deteksi menggunakan spektrofotometri visibel pada 550nm dengan substrat berupa residu glukosa dalam medium cair Saboraud Dextrose Broth (SDB), menghasilkan senyawa kromofor kuinonimin, yang dideteksidengan metode spektrofotometri visibel pada panjang gelombang 550nm. Pada periode inkubasi 48 jam, nilai rentang KHM dari antifungi yang diperoleh dari metode ini terdapat dalam rentang KHM pustaka, sedangkan pada periode inkubasi 24 jam hanya antifungi amfoterisin B memiliki nilai KHM dalam rentang data pustaka.

  1. 2.      Tujuan
    1. Untuk mengetahui cara pembuatan suspensi bakteri dan pembuatan larutan stok antibiotika.
    2. Untuk mengetahui kadar minimal suatu antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dalam praktikum kali ini dicari kadar minimal antibiotik Amoxicylin terhadap kuman Sterptococcus pygonis dan Pseudomonas aeruginosa.
    3. Untuk mengetahui resistensi tidaknya bakteri terhadap antibiotik  yang  digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 11

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

  1. A.    Antibiotika

Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman.

Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibiotic yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya masing-masing dikenal sebagai Kadar Hambat Mikroba (KHM) dan Kadar Bunuh Mikroba (KBM). Antimikroba tertentu aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi KHM.

Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas selektif. Istilah ini berarti bahwa suatu obat berbahaya bagi parasit tetapi tidak membahayakan inang. Umumnya toksisitas selektif lebih bersifat relatif dan bukan absolut, ini berarti bahwa suatu obat yang pada konsentrasi tertentu dapat ditoleransi oleh inang namun dapat merusak parasit.

Aktivitas mikroba dapat dikendalikan dengan mengatur faktor-faktor lingkungan yang meliputi faktor biotik (makhluk hidup dan mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose, dan sintropisme) dan abiotik (temperatur, kelembaban, pH, radiasi, penghancuran secara mekanik). Antibiotika yang ideal sebagai obat harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Mempunyai kemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang luas (broad spectrum antibiotik).
  2. Tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme pathogen.
  3. Tidak menimbulkan pengaruh samping (side effect) yang buruk pada host, seperti reaksi alergi, kerusakan syaraf, iritasi lambung, dan sebagainya.
  4. Tidak mengganggu keseimbangan flora yang normal dari host seperti flora usus atau flora kulit.

 

  1. B.     Mekanisme Kerja Antibiotika

Pemusnahan mikroba dengan antibiotika yang bersifat bakteriostatik masih tergantung dari keanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes. Peranan lamanya kontak antara mikroba dengan antimikroba dalam kadar efektif juga sangat menentukan untuk mendapatkan efek, khususnya pada tuberkolostatik.

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotika dibagi dalam lima kelompok :

  1. Yang mengganggu metabolism sel mikroba.
  2. Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba.
  3. Yang mengganggu permeabilitas membrane sel mikroba.
  4. Yang menghambat sintesis protein sel mikroba.
  5. Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.

 

  1. C.    Resistensi

Secara garis besar kuman dapat menjadi resisten terhadap suatu antibiotika melalui 3 mekanisme :

  1. Obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya didalam sel mikroba. Pada kuman Gram negatif molekul antibiotika yang kecil dan polar dapat menembus dinding luar dan masuk kedalam sel melalui lubang-lubang kecil yang disebut porin. Bila porin menghilang atau mengalami mutasi maka masuknya antibiotika ini akan terhambat. Mekanisme lain adalah kuman mengurangi mekanisme transfor aktif yang memasukan antibiotika kedalam sel. Mekanisme lain adalah mkroba mengaktifkan pompa efluks untuk membuang keluar antibiotic dalam sel.
  2. Inaktivasi obat : mekanisme ini sering mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap golongan aminoglikosida dan beta laktam karena mikroba mampu membuat enzim yang merusak kedua golongan antibiotika tersebut.
  3. Mikroba mengubah tempat ikatan antibiotika : mekanisme ini terlihat pada S.aureus yang rsisten terhadap metisilin. Kuman ini mengubah penicillin binding proteinnya sehingga afinitasnya menurun terhadap metisilin dan antibiotika beta laktam yang lain. 

 

  1. D.    Kadar Hambat Minimal (KHM) Antibiotik

Penentuan kepekaan mikroba terhadap suatu antibiotika atau khemoterapeutik dipakai untuk menentukan pengobatan terbaik terhadap penyakit yang disebabkan oleh suatu mikroba tersebut pada manusia atau hewan. Ada dua metode untuk menentukan kadar hambat minimal suatu antibiotika yaitu :

  1. Metode Difusi

Pada metode ini zat antibiotika berdifusi pada lempeng agar yang telah diinokulasi dengan bakteri. Dasar pengamatannya adalah terbentuk zona hambat disekeliling cakram atau silinder yang berisi antibiotika. Metode ini dipengaruhi oleh faktor fisik dan kimia, selain antara obat dan organisme.

  1. Cara parit

Pada medium agar yang telah diinokulasi dengan baktei dibuat parit kemudian diisi dengan zat antibiotika dan diinkubasi pada suhu dan jangka waktu sesuai dengan jenis bakteri uji. Pengamatan dilakukan atas ada atau tidaknya hambatan disekeliling parit.

  1. Cara silinder

Pada medium agar yang telah diinokulasi dengan bakteri dibuat lubang diletakan silinder kemudian diisi dengan zat antibakteri, setelah itu diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan jenis bakteri uji. Pengamatan dilakukan atas dasra ada atau tidaknya hambatan disekeliling silinder.

  1. Cara cakram

Kertas cakram yang mengandung zat antibakteri diletakan diatas lempeng, setelah diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan bakteri uji. Pengamatan dilakukan berdasarkan ada tidaknya hambatan disekeliling cakram

 

  1. Metode dilusi

Metode ini menggunakan antibakteri yang turun secar bertahap, baik dengan media cair atau padat kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan. Dasar pengamatannya adalah dengan melihat tumbuh atau tidaknya bakteri.

  1. Cara pengenceran tabung (Metode Kirby-Bauer)

Pada metode ini zat yang akan diuji kepekaan antibakterinya diencerkan secar serial dengan pengenceran kelipatan dua dalam medium cair, kemudian diinokulasikan dengan bakteri uji, inkubasi pada suhu 37°C selama 18-21 jm ( untuk bakteri) dan 1-2 minggu (untuk jamur). Aktivitas antibakteri ditentukan sebagai konsentrasi terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

  1. Cara penapisan lempeng

Pada metode ini zat yang akan diuji antibakterinya diencerkan secara serial dengan pengenceran kelipatan dua dalam medium agar pada suhu 40-50°C, kemudian dituang dalam cawan petri. Setelah lempeng agar membeku ditanam inokulum bakteri dan diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan pertumbuhan bakteri uji. Kadar hambat minimum zat antibakteri yang diuji, ditentukan sebagai konsentrasi terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

 

 

  1. Turbiditas

Pada metode ini pengamatann aktivitas didasarkan atas kekeruhan yang terjadi pada medium pembenihan. Pertumbuhan bakteri juga dapat ditentukan dari perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah inkubasi, yang dilakukan dengan mengukur serapannya secara spektrofotometer. Adanya pertumbuhan bakteri ditandai dengan peningkatan jumlah sel bakteri, yang mengakibatkan meningkatnya kekeruhan. Kekeruhan yang terjadi umumnya berbanding lurus dengan serapan.

 

Cara Lain Pengujian KHM

  1. Pembuatan Lapisan Dasar ( Base Layer)

Siapkan cawan petri steril, setiap cawan diisi 10ml base layer, usahakan merata memenuhi seluruh permukaan petri. Biarkan membeku.

  1. Pembuatan Lapisan Pembenihan

Siapkan 6 tabung reaksi masing-masing tabung dengan 4ml lapisan pembenihan cair, ratakan sehingga menutupi lapisan base layer. Tunggu sampai mengeras 1ml suspense kuman dari pengenceran 1000x, ratakan dengan menggunakan spatel drugalsky.

  1. Pemasangan Silinder (Cakram Kertas)

Letakkan silinder glass atau kertas cakram, diatas permukaan agar dengan jarak satu sama lin ± 20-35mm. Inkubasi 24 jam suhu 37C hitung diameter zona bening yang terbentuk dengan menggunakan jangka sorong.

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

  1. A.    Alat dan Bahan

1)      Alat

  1. Cawan Petri Steril
  2. Tabung reaksi
  3. Ose
  4. Pipet ukur
  5. Lampu Bunsen
  6. Labu ukur
  7. Bakteri filter

2)      Bahan

  1. Mikroba uji standar
  2. Antibiotik uji (obat)
  3. Aquadest steril
  4. Larutan dafar fosfat pH 6-8
  5. B.     Prosedur  Kerja
  6. Sediakan biakan kuman standart dalam kaldu nutrisi atau bukan pada agar miring suhu 37°C selama 10-24 jam, buat inokulasi dari suspense kuman stansart sesuai dengan Mc. Farland III atau 25% transmittan menggunakan alat spektrofotometter.

Pembuatan Inokulum :

  1. Siapkan 3 tabung reaksi secara berurut dan diberi nomor 1,2, dan 3 masing-masing diisi NaCl fisiologis/aquadest steril sebanyak 9ml.
  2. Pada tabung pertama diisi 1ml suspensi kuman sesuai dengan Mc Farland III, kocok sampai homogen.
  3. Ambil 1ml dari tabung pertama dan masukkan pada tabung kedua sesuai dengan Mc Farland III, kocok sampai homogen.
  4. Ambil 1ml dari tabung kedua, masukkan kedalam tabung ketiga, kocok sampai homogen, sehingga diperoleh suspense pengenceran 10x, 100x, dan 1000x (setara dengan 106 kuman per ml).
  5. Pembuatan Baku Induk

Timbang seksama 100mg antibiotika dan larutkan dalam 100ml dengan pelarut yang cocok sehingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm. Buat seri pengenceran kelipatan dua sehingga diperoleh kadar 500µg/ml, 250µg/ml, 125µg/ml.

  1. Penentuan KHM
    1. Tuang medium NB yang masih cair (suhu ±50°C).
    2. Homogenkan dengan 1ml suspensi bakteri (buat angka 8)
      1. Kaca silinder: setelah ½ memadat, tancapkan silinder (jangan menyentuh dasar petri). Pipet 0,1 ml antibiotika masukan kedalam kaca silinder.
      2. Kertas cakram: setelah memadat, tempelkan kertas cakram yang telah dicelupkan ke masing-masing pengenceran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil
Pengenceran

1000 πg/ml

Pengenceran

500 πg/ml

Pengenceran

250  πg/ml

Pengenceran

125 πg/ml

A= 2,21 mm A= 2,195 mm A= 1,675 mm

B= 0.475 mm B= 0,47 mm B= 0,465 mm

 

Perhitungan :

KHM 125 ppm = A – B

 

=1, 675 – 0, 465 = 1,21 mm

KHM 250 ppm = A – B

= 2, 195 – 0, 47 = 1, 725 mm

KHM 500 ppm = A – B

= 2,21 – 0, 475 = 1, 735 mm

  1. B.     Pembahasan

Penentuan kadar hambat minimum (KHM) Suatu antibiotika bertujuan untuk mengetahui konsentrasi terkecil suatu antibiotika dapat menghambat pertumbuhan bakteri. KHM perlu dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya resistensi. Pada praktikum kali ini metode yang digunakan dalam penentuan KHM adalah metode difusi. Metode difusi merupakan metode yang paling sering digunakan untuk menentukan kepekaan bahan antimikroba sampai senyawa kemoterapi. Secara umum, metode difusi tidak bisa digunakan untuk mengukur derajat antimikroba zat sehingga metode ini tidak menjamin diidentifikasinya bahan pembunuh antimikroba yang efektif untuk terapi (bakterisida atau fungisida). Hal ini disebabkan adanya perbedaan kecepatan difusi dari senyawa antimikroba yang dipengaruhi berat molekulnya, menguraikan bahwa zona untuk suatu zat padat disbandingkan dengan standar, asalkan perbenihan, ukuran inokulum, dan keadaan lain diatur secara seksama.

Pada pengukuran standar, konsentrasi antibiotik berkolerasi dengan diameter zona hambat sehingga bisa digunakan untuk menentukan tingkat kepekaan, yaitu peka, cukup peka, dan resisten. Nilai KHM berbanding terbalik dengan diameter zona hambat.

Pada suatu konsentrasi tertentu, antibiotika mempunyai efek menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme tersebut ditandai dengan adanya kekeruhan pada media yang digunakan. Pada kadar tertentu, dimana pertumbuhan mikroorganisme terhambat oleh sejumlah antibiotic yang sesuai, tidak terjadi kekeruhan pada media .

Dengan pengenceran dapat dilihat pada konsentrasi berupa antibiotic mempunyai efek hambat pertumbuhan mikroorganisme. Parameter yang digunakan pada metode difusi yaitu terbentuk atau tidak zona hambat dari antibioitika.

Dari hasil praktikum, diperoleh pada pengenceran 500  Mg/ml terdapat zona hambat sebesar 1,725 mm sebesar 1,735 mm, pada pengenceran 250 mg/ml terdapat zona hambat sebesar 1,21 mm. sedangkan pada pengenceran 1000 mg/ml tidak terbentuk zona hambat dikarenakan silinder pada media terjatuh.

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Antibiotic adalah suatu zat yang berasal dari bakteri, jamur, fungi, yang dilemahkan yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
  2. KHM adalah kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba.
  3. Dari pengenceran pada praktikum pada pengenceran 500 ppm terdapat zona hambat sebesar 1,735 mm pada pengenceran 125 ppm terdapat zona hambat sebesar 1,21 mm. dan pada pengenceran 250 ppm terdapat zona hambat sebesar 1, 725 mm sedangkan pada pengenceran 1000 ppm tidak terbentuk zona hambat dikarenakan silinder pada media terjatuh.
  4. Metode yang digunakan adalah metode difusi yaitu merupakan metode paling sering digunakan untuk menentukan kepekaan antimikroba sampai senyawa kemotrapi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia, Jakarta.

http://kumpulanblogger.com

Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lim,D. 1998. Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill book, New york.

Mila Ermila, 2005, Penuntun Praktikum Mikrobiologi.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.

 

 

 

 

laporan praktikum-isolasi mikroorganisme

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKRIBIOLOGI-VIROLOGI

 

Disusun oleh :

Masnelli Masri

Muharindi Nurlia

Risa Luvita Octaviani

Rizki Kurniawan

Siti Jamilah

Hery Herwanto

 

Kelompok : 1

Kelas : 3C

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

 

 

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Dengan segala kerendahan hati, kami menyusun laporan praktikum ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah “Praktikum Mikrobiologi”. Dengan selesainya laporan ini kami tidak lupa mengucapkan terimikasih kepada:Dosen pembimbing praktikum mikrobiologi, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga terselesainya laporan ini. Serta teman-teman yang ikut serta membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini belum sempurna, untuk itu kritik, saran, dan ide-ide yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan penyusunan yang akan datang. Harapan kami semoga laporan ini dapat berguna dan dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Wassalamualaikum Wr, Wb.

 

 

Jakarta,01 November 2010

 

Penyusun

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara, suubstrat yang berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Jenis mikroorganismenya dapat berupa bakteri, khamir, kapng dan sebagainya. Populasi dari mikroba yang ada di linkungan ini sangatlah beraneka ragam sehinga dalam mengisolasi diperlukan beberapa tahap penanaman sehingga berhasil diperoleh koloni yang tunggal. Koloni yang tunggal ini kemudian yang akan diperbanyak untuk suatu tujuan penelitian misalnya untuk menngisolasi DNA mikroba yang dapat mendeteksi mikroba yang telah resisten terhadap suatu antibiotik. Atau untuk mengetahui mikroba yang dipakai untuk bioremediasi holokarbon.

Mikroroganisme di alam terdapat dalam bentuk kumpulan sel yang disebut koloni. Untuk mempelajari pembiakan organisme tersebut kita harus mempelajari teknik isolasi ( seely dan van de mark, 1926 : 13 ).  Isolasi adalah suatu teknik yang dipergunakan utnuk memisahkan suatu koloni dari biakan campuran.

 

  1. TUJUAN
    1. Untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme
    2. Untuk mengetahui teknik isolasi
    3. Untuk mengetahui teknik pengambilan sampel tanah.
    4. Untuk mengetahui isolasi dengan cara pengenceran :
      1. Tknik preparasi suspensi ; swab ( ulas ) , rinbse ( bilas ), maseration ( pengancuran).
      2. Teknik pengenceran bertingkat
      3. Teknik penamaan, metode gores ( sinambung, T, kuadran ), tuang, sebar.
  2. Untuk mengetahui parameter pengamatan morfologi koloni bakteri.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. 1.      Definisi

Populasi mikroorganisme yang ada di alam sekitar kita ini sangatlah besar dan cukup kompleks. Beratus spesies mikroba menguasai setiap bagian tubuh kita. Mereka terdapat dalam jumlah yang cukup basar. Sebagai contoh, sekali kita bersin dapat mnebarkan beribu- ribu mikroorganisme. Satu gram tinja dapat mengandung jutaan bakteri. Alam di sekitar kita, baik itu tanah, air, maupunudara juga dihuni oleh kumpulan mikroorganisme.Penelitian yang layak mengenai mikroorganisme dalam berbagai habitat ini memerlukan teknik untuk memisahkan populasi campuran yang rumit ini, atau yang biasanya dikenal dengan istilah biakan campuran, menjadi spsies yang berbeda- beda yang bikenal dengan istilah biakan murni. Biakan murni in teerdiri dari satu populasi sel yang semuanya berasal dari satu sel induk (Pelczar, 1986).

Pemindahan bakteri dari medium lama ke medium yang baru atau yang dikenal dengan istilah inokulasi bakteri ini memerluakn banyak ketelitian. Terlebih dahulu kita harus mengusahakan agar semua alat- alat yang akan digunakan untuk pengerjaan medium dan pengerjaan inokulasi benar- benar steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya kkontaminasi, yaitu masuknya mikrooba lain yang tidak diinginkan sehingga biakan yang tumbuh di dalam medium adalah benar- benar biakan murni.

  1. 2.      Cara-cara Menyendirikan Species

Untuk menyendirikan suatu spesies dikenal beberapa cara, yaitu :

1)      Dengan pengenceran

2)      Dengan penuangan

3)      Metode Untuk Menanam Biakan Didalam Medium

Ada beberapa metode yang biasanya dilakukan untuk menanam biakan di dalam medium diantaranya adalah :

  1. Metode  Cawan Gores

Metode ini mempunyai dua keuntungan yaitu menghemat bahan dan waktu. Namun untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan yang lumayan yang biasanya diperoleh dari pengalaman. Metode cawan gores yang dilakukan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan. Dua macam kesalahan yang umum sekali dilakukan adalah tidak memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik- baiknya untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme menjafi kurang lanjut dan cenderung untuk menggunakan inokulum terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan sel- sel yang digores.

 

  1. Metode Cawan Tuang

Metode ini memboroskan waktu dan bahan namun tidak memerlukan keterampilan yang terlalu tinggi. Proses pemisahan/pemurnian dari mikroorganisme lain perlu dilakukan karena semua pekerjaan mikrobiologis, misalnya telaah dan identifikasi mikroorganisme, memerlukan suatu populasi yang hanya terdiri dari satu macam mikroorganisme saja. Teknik tersebut dikenal dengan Isolasai Mikroba.

4)   Cara Mengisolasi Mikroba

Terdapat berbagai cara mengisolasi mikroba, yaitu :

a)      Isolasi Pada Agar Cawan

b)      Isolasi Pada Medium Cair

c)      Isolasi Sel Tunggal

5)      Teknik Pengambilan Sampel

Sebelum melakukan isolasi terlebih dahulu dilakukan pengambilan sampel. Berikut merupakan prosedur pengambilan sampel:

 

1. Sampel tanah

Jika mikroorganisme yang diinginkan kemungkinan berada di dalam tanah, maka cara pengambilannya disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan. Misal jika yang diinginkan mikroorganisma rhizosfer maka sampel diambil dari sekitar perakaran dekat permukaan hingga ujung perakaran.

2. Sampel air

Pengambilan sampel air bergantung kepada keadaan air itu sendiri. Jika beerasal dari air sungai yang mengalir maka botol dicelupkan miring dengan bibir botol melawan arus air. Bila pengambilan sampel dilakukan pada air yang tenang, botol dapat dicelupkan dengan tali, jika ingin mengambil sampel dari air keran maka sebelumya keran dialirkan dulu beberapa saat dan mulut kran dibakar.

 

 

 

 

Isolasi Dengan Cara Pengenceran (Dilution)

1)      Teknik Preparasi Suspensi

Sampel yang telah diambil kemudian disuspensikan dalam akuades steril. Tujuan dari teknik ini pada prinsipnya adalah melarutkan atau melepaskan mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Macam-macam preparsi bergantung kepada bentuk sampel :

a. Swab (ulas), dilakukan menggunakan cotton bud steril pada sampel yang memiliki permukaan luas dan pada umumnya sulit dipindahkan atau sesuatu pada benda tersebut. Contohnya adalah meja, batu, batang kayu dll. Caranya dengan mengusapkan cotton bud memutar sehingga seluruh permukaan kapas dari cotton bud kontak dengan permukaan sampel. Swab akan lebih baik jika cotton bud dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan atraktan semisal pepton water.

b. Rinse (bilas) ditujukan untuk melarutkan sel-sel mikroba yang menempel pada permukaan substrat yang luas tapi relatif berukuran kecil, misalnya daun bunga dll. Rinse merupakan prosedur kerja dengan mencelupkan sampel ke dalam akuades dengan perbandingan 1 : 9 (w/v). Contohnya sampel daun diambil dan ditimbang 5 g kemudian dibilas dengan akuades 45 ml yang terdapat dalam beaker glass.

c. Maseration (pengancuran), sampel yang berbentuk padat dapat ditumbuk dengan mortar dan pestle sehingga mikroba yang ada dipermukaan atau di dalam dapat terlepas kemudian dilarutkan ke dalam air. Contoh sampelnya antar alain bakso, biji, buah dll. Perbandingan antar berat sampel dengan pengenceran pertama adalah 1 : 9 (w/v). Unutk sampel dari tanh tak perlu dimaserasi

 

2)      Teknik Pengenceran Bertingkat

Tujuan dari pengenceran bertingkat yaitu memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Digunakan perbandingan 1 : 9 untuk sampel dan pengenceran pertama dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel mikroorganisma dari pengenceran sebelumnya.

3)      Teknik Penanaman

a. Teknik penanaman dari suspensi

Teknik penanaman ini merupakan lajutan dari pengenceran bertingkat. Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung pengenceran  terakhir.

  1. A.    Spread Plate (agar tabur ulas)

Spread plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspensi bakteri di permukaan agar diperoleh kultur murni.

  1. B.     Pour Plate (agar tuang)

Teknik ini memerlukan agar yang belum padat (>45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen.

  1. C.    Teknik Penanaman dengan Goresan (Streak)

Bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru.

a)       Goresan Sinambung

Goresan sinambung umumnya digunakan bukan untuk mendapatkan koloni tunggal, melainkan untuk peremajaan ke cawan atau medium baru.

b)     Goresan T

Cara kerja :

1)      Bagi cawan menjadi 3 bagian menggunakan spidol marker.

2)       Inokulasi daerah 1 dengan streak zig-zag.

3)      Panaskan jarum inokulan dan tunggu dingin, kemudian lanjutkan streak zig-zag pada daerah 2 (streak pada gambar). Cawan diputar untuk memperoleh goresan yang sempurna.

4)         Lakukan hal yang sama pada daerah 3.

 

c)      Goresan Kuadran (Streak quadrant)

Cara kerja :

Hampir sama dengan goresan T, namun berpola goresan yang berbeda yaitu dibagi empat. Daerah 1 merupakan goresan awal sehingga masih mengandung banyak sel mikroorganisma.Goresan selanjutnya dipotongkan atau disilangkan dari goresan pertama sehingga jumlah semakin sedikit dan akhirnya terpisah-pisah menjadi koloni tunggal.

Cara Kerja Isolasi Jamur dari Tanah :

`Proses isolasi mikroorganisme. Transfer biakan. Isolasi mikroorganisme merupakan rangkaian cara yang dilakukan untuk memisahkan mikroorganisme dari lingkungan sekitar. Hasil dari isolasi adalah biakan yang hanya terdiri dari satu spesies mikroorganisme. Biakan murni merupakan biakan yang setiap koloni mikroorganisme hanya memiliki satu jenis mikroorganisme.

Substrat mikroorganisme dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu substrat padat dan substrat cair. Isolasi mikroorganisme dari substrat padat dilakukan dengan metode tabur dan suspensi. Metode isolasi pada substrat cair adalah metode sebar dan metode tuang.

Transfer biakan dilakukan atas dasar teknik aseptis. Alat dan metode yang digunakan tergantung dari tipe mikroorganisme. Transfer biakan pada ada dua macam, yaitu metode stab dan streak. Metode stab dilakukan dengan jarum tanam lancip, sedangkan metode streak dilakukan dengan jarum ose pada medium padat. Metode stab dilakukan dengan cara menusukkan ujung jarum tanam lancip yang telah ada mikroorganisme pada sepertiga bagian atas medium tegak. Metode streak dilakukan dengan mengoleskan ujung jarum ose secara zig-zag pada medium.

PertumbuhanMikroba

Mikroba merupakan mikroorganisme yang perlu diketahui kemampuannya untuk tumbuh dan hidup sebab beberapa di antaranya sering dimanfaatkan untuk keperluan penelitian.Sampai sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan terus menggali potensi apa yang terdapat di dalam mikriba, oleh karena itu perlu diketahui seluk beluk dari mikroba itu sendiri.Salah satunya yaitu factor- factor apa saja yang dapat mempengaruhi pertumbuhannya. Setiap mikrioba memiliki karakteristik kondisi pertumbuhan yang berbeda- beda Pertumbuhan bakteri pada kondisi yang optimum lebih cepat jika dibandingkan dengan jamur dan kaoang. Hal ini disebabkan karena bakteri memiliki struktur sel yang lebih sederhana, sehingga sebagian besar bakteri memiliki waktu generasi hanya sekitar 20 menit jika dibandingkan dengan khamir dan kapang yang struktur selnya lebih rumit dan waktu generasinya yang cukup lama.
Faktor- faktor yang mempegearuhi pertumbuhan mikroba antara lain :

  1. pH

Kebanyakan mikroba tumbuh baik pada pH sekitar netral dan pH 4,6 –7,0 merupakan kondisi optimum untuk pertumbuhan bakteri,sedangkan kapang dan khamir tumbuh pada pH yang lebih rendah.

  1. Suhu
    Suhu merupakan salah satu factor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba. Setiap mikroba mempunyai kisaran suhu dan suhu optimum tertentu untuk pertumbuhannya.

    1. Nutrient

Mikroba sama dengan makhluk hidup lainnya, memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber energi dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar tersebut adalah karbon, nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, zat besi dan sejumlah kecil logam lainnya. Ketiadaan atau kekurangan sumber-sumber nutrisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Hingga pada akhirnya dapat menyebabkan kematian.

  1. Oksigen

Mikroba mempunyai kebutuhan oksigen yang berbeda-beda untuk pertumbuhannya. Berdasarkan kebutuhannya akan oksigen, mikroba dibedakan atas 4 kelompok sbb:

  1. Aerob, yaitu mikroba yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya.
  2. Anaerob, yaitu mikroba yang tumbuh tanpa membutuhkan oksigen.
  3. Anaerob fakultatif, yaitu mikroba yang dapat tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen.
  4. Mikroaerofil, yaitu mikroba yang membutuhkan oksigen pada konsentrasi yang lebih rendah daripada konsentrasi oksigen yang normal di udara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

  1. A.    Alat dan Bahan

1)      Alat

  1. Beaker glass
  2. Batang pengaduk
  3. Tabung Reaksi
  4. Cawan Petri
  5. Pembakar Bunsen
    1. Wrap
    2. Kapas
    3. Plastic wrapping
    4. Alumunium foil
    5. Vortex mixer
    6. Cutton bud
    7. Jarum transfer
    8. Incubator

2)      Bahan

  1. Tanah
  2. Aquadest
  3. Alkohol
  4. Media agar
  5. Rambut
  6. B.     Prosedur  Kerja
  7. Isolasi mikroorganisme dari udara dan lingkungan
    1. Cairkan medium agar tegak dalam penangas air.
    2. Dinginkan sampai suhu 50°C, hal ini dapat diperkirakan dengan menyentuh pada telapak tangan kita.
    3. Tuang agar cair tersebut kedalam cawan petri steril secara aseptis.
    4. Ratakan agar dengan memutar cawan petri membentuk profil angka delapan dan jangan tunggu sampai agar mengental.
    5. Dinginkan, setelah padat inokulasi dengan sumber mikroorganisme yang kita inginkan.
    6. Dari lingkungan udara : buka tutup cawan petri selama 5 menit kemudian tutup kembali. Dari nafas : buka tutup cawan petri secukupnya kemudian hembuskan aliran udara kedalamnya.
    7. Dari lingkungan : ambil cutton bud secara aseptis, celupkan pada aquadest steril selama 1 menit, gosokkan pada setiap sumber lingkungan (rambut, kulit, tangan, kaki, meja, tas, dan lain-lain) yang kita inginkan, kemudian goreskan cutton bud tersebut diatas permukaan agar, secara aseptis. Inkubasi 24-48 jam.
    8. Pengamatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme dilakukan dengan melihat ada tidaknya koloni yang tumbuh diatas medium.
    9. Isolasi Bakteri Dari Sampel Tanah
      1. Timbang tanah 1 gram.
      2. Tanah seberat 1 gram dimasukkan kedalam aquadest steril 9ml (tabung pengenceran 10-1 secara aseptis dan divortex, lalu ambil 1ml larutan masukkan kedalam 9ml aquadest steril ( pengenceran 10-2 ) dan selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat sampai 10-7 .
      3. Dari masing-masing 3 pengenceran terakhir diambil 0,1ml untuk ditanam secara spread plate pada medium petri PDA dan NA.
      4. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24-48 jam.
      5. Koloni akan tumbuh pada ketiga cawan tersebut kemudian pilih koloni yang relative dari koloni lain dan koloni yang mudah dikenali.
      6. Koloni yang terpilih kemudian ditumbuhkan atau dimurnikan ke NA dan PDA baru dengan teknik streak methode.
      7. Inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37°C.

 

 

  1. Morfologi Koloni Bakteri
    1. Gunakan kultur cawan yang mempunyai koloni tunggal yang terpisah dari kelompoknya. Pilih koloni terbesar untuk menentukan bentuk, kromogenesis, dan bau koloni.
    2. Gunakan mikroskop stereoskopik untuk melihat detailnya. Letakan cawan di meja preparat dengan cover masih tertutup. Gunakan perbesaran yang paling baik untuk mengamati elevasi, permukaan, kekeruhan, ukuran dan tepi koloni.
    3. Untuk menentukan konsistensi koloni, diperlukan jarum inokulum atau tusuk gigi steril untuk mengambil koloni dan diamati konsistensi koloni saat jarum terangkat dari medium agar.
    4. Untuk menentukan emulsifibility, koloni disuspensikan dalam air atau larutan garam fisilogis dalam sebuah tabung reaksi. Diamati bagaimana koloni tersebut bercampur dalam air atau garam fisiologis, apakah mudah larut, menjadi emulsi, menjadi suspense atau tidak sama sekali. Atau dapat dengan cara : ambil koloni dengan jarum, celupkan kedalam tabung yang mengandung air atau garam fisiologis, kemudian sebarkan dipermukaan gelas. Amati apakah koloni akan menjadi suspense atau menjadi masa bakteri yang tidak larut dan akan mengapung di air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    HASIL

Dari  hasil praktikum yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:

1)      Isolasi mikroorganisme dari udara dan lingkungan

No.

Sumber

Bakteri

Jamur

Keterangan

1. Lingkungan Udara

ü   

Jumlah banyak, transparan, dan terdapat kontaminasi
2. Nafas Manusia

ü   

Jumlah banyak, transparan
3. Lingkungan

 

 

 
 
  1. Rambut

ü   

ü   

Bakteri : jumlah banyak

Kapang : jumlah satu

 
  1. Kulit

ü   

Jumlah banyak
 
  1. Tangan

 
  1. Kaki

 
  1. Meja

 
  1. Tas

 

 

2)      Isolasi bakteri dari sampel tanah

Sumber isolat

Intensitas

Pertumbuhan

Jenis

Mikroorganisme

Ket.

Cawan 10-5

29

   
Cawan 10-6

15

  Kontaminasi
Cawan 10-7

<30

   
 

   

 

3)      Morfologi koloni bakteri

No.

Pengamatan

Bakteri 1

Bakteri 2

1. Bentuk koloni Bulat Bulat
2. Ukuran koloni

3. Pigmentasi koloni Transparan Transparan
4. Elevasi koloni Datar Datar
5. Tepi koloni Halus Halus
6. Permukaan koloni Halus Halus
7. Konsistensi koloni Lendir,tidak

Lengket

Lendir, tidak lengket
8. Emulsifibilitas koloni Teremulsi Teremulsi
9. Bau koloni Busuk Busuk

 

 

 

Gambar :

  

 

 

 

s

 

 

  1. B.     PEMBAHASAN

Populasi mikroorganisme yang ada di alam sekitar kita ini ssangatlah besar dan cukup kompleks. Beratus spesies mikroba menguasai setiap bagian tubuh kita. Mereka terdapat dalam jumlah yang cukup basar. Sebagai contoh, sekali kita bersin dapat mnebarkan beribu- ribu mikroorganisme. Satu gram tinja dapat mengandung jutaan bakteri. Alam di sekitar kita, baik itu tanah, air, maupun udara juga dihuni oleh kumpulan mikroorganisme.

Pemindahan bakteri dari medium lama ke medium yang baru atau yang dikenal dengan istilah inokulasi bakteri ini memerluakn banyak ketelitian. Terlebih dahulu kita harus mengusahakan agar semua alat- alat yang akan digunakan untuk pengerjaan medium dan pengerjaan inokulasi benar- benar steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya kkontaminasi, yaitu masuknya mikrooba lain yang tidak diinginkan sehingga biakan yang tumbuh di dalam medium adalah benar- benar biakan murni (Dwidjoseputro, 1990).

Untuk menyendirikan suatu spesies dikenal beberapa cara, yaitu (Dwidjoseputro,1990) :
1. Degan pengenceran

2. Dengan penuangan

Ada beberapa metode yang biasanya dilakukan untuk menanam biakan di dalam medium diantaranya adalah (Lay, 1994) :

  1. Metode cawan gores

Metode ini mempunyai dua keuntungan yaitu menghemat bahan dan waktu. Namun untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan yang lumayan yang biasanya diperoleh dari pengalaman. Metode cawan gores yang dilakukan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan.

  1. Metode cawan tuang

Metode ini memboroskan waktu dan bahan namun tidak memerlukan keterampilan yang terlalu tinggi.

Pada praktikum ini metode yang digunakan adalah metode zigzag. Karena pada metode ini hasil miktoba dapat terlihat dengan jelas.

Dalam praktikum mikrobiologi digunakan 2 sampel yaitu yang berasal dari tanah dan yang berasal dari lingkungan.

  1. Isolasi mikroba dilingkungan sekitar kita

`     Pada percobaan isolasi mikroba di sekitar kita, digunakan medium NA (Nutrient Agar) dengan mengisolasi mikroba yang berasal dari lingkungan udara, nafas manusia, rambut . Setelah melakukan pengerjaan dan di inkubasi selama 24- 28 jam di inkubator, diperoleh hasil bahwa cawan petri yang berisi mikroba dari rambut  berjumlah     koloni. Warna koloni putih dan berwarna warni.Cawan petri yang berisi mikroba dari lingkungan udara berjumlah koloni memiliki koloni yaitu filamentous. Warna kedua koloni putih.

2. Isolasi mikroba dari tanah

Pada percobaan isolasi mikroba dari tanah, dilakukan dengan metode zigzag . Setelah melakukan pengerjaan dan diinkubasi selama 24- 48 jam di inkubator,Isolasi mikroba dengan metode zigzag, bakteri yang berkoloni jumlahnya tidak bisa untuk dihitung (TBUD), bentuk bakteri,tepi, serta permukaannya tidak jelas. Sedangkan warna bakteri putih.

Cara menghitung mikroba

Plate count / viable count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam suspensi tersebut.

Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroorganisme karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung membentuk kelompok atau berantai. Berdasarkan hal tersebut digunakan istilah Coloni Forming Units (CFU’s) per ml. koloni yang tumbuh berasal dari suspensi yang diperoleh menggunakan pengenceran bertingkat dari sebuah sampel yang ingin diketahui jumlah bakterinya.

Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut “

  1.  Satu koloni dihitung 1 koloni.
  2. Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni.
  3.  Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni.
  4. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni.
  5.  Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidah dihitung.
  6. Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni.s

 

 

 

Hal-hal penting yang harus dipikirkan matang sebelum menganalisa sampel untuk diketahui jumlah mikroorganismenya adalah:

  1. Memperkirakan jumlah mikroorganisme yang ada dalam sampel per satuan volum.
  2. Memilih metode yang cocok sehingga dihasilkan data yang akurat.
  3. Mengetahui jenis/golongan mikroorganisme yang akan dihitung, misalnya bermaksud akan menghitung yeast, bakteri, atau bakteri genus tertentu saja.
  4. Menentukan media pertumbuhan yang cocok.
  5. Benar-benar mengetahui perbedaan morfologi koloni antara bakteri, yeast dan molds.
  6. Mencari tahu standar/ batas ambang/ jumlah maksimum aman jika sample yang dianalisa memerlukan referensi tersebut.
  7. Memperkirakan jumlah sampel (volum/berat) yang perlu ditampung pada saat pengambilan sampel yang disesuaikan dengan sample size dari metode tertentu.

 

Jika didapat jumlah koloni kurang dari 30 maka:

Kesalahan statistik tinggi.Sangat sensitif terhadap kontaminan (jumlah bakteri kontaminan yang tidak sengajamasuk,besar pengaruhnya terhadap jumlah akhir koloni per cawan).Membutuhkan kerja aseptis yang lebih teliti.

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan yaitu isolasi organism dari udara dan lingkungan (rambut) di temukan 29 mikroorganisme yang tumbuh pada cawan 10-5, 15 ditemukan pada cawan 10-6, dan <30 pada cawan 10-7.

Morfologi koloni bakteri yang kami temukan berbentuk bulat, elevasi koloni datar, tepi koloni halus, konsistensi koloni berlendir namun tidak lengket, emulsifibilitas koloni teremulsi , serta ditemukan bahwa koloni tersebut bau menyengat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Isolasi dengan cara pengenceran dibagi menjadi 3 tehnik, yaitu tehnik preparasi suspensi, tehnik pengenceran bertingkat, dan tehnik penanaman.
  2. Mikroorganisme dibiakkan dilaboratorium pada bahan nutrien yang disebut medium. Isolasi bakteri artinya memisahkan satu jenis bakteri dari biakkan campuran menjadi biakan murni yaitu biakkan yang hanya terdiri dari satu jenis mikrorganisme. Untuk mendapatkan biakkan murni dan biakkan campuran dengan cara mengisolasi dan biakkan campuran. Biakkan murni tersebut dikatakan berhasil jika mikroba yang diisolasi sama dengan aslinya baik warna/ciri-ciri yang lainnya.
  3. Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut:
  1. Satu koloni dihitung 1 koloni.
  2. Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni.
  3.  Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni.
  4. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni.
  5.  Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidah dihitung.
  6. Dari hasil praktikum yang telah dilakukan yaitu isolasi organism dari udara dan lingkungan (rambut) di temukan 29 mikroorganisme yang tumbuh pada cawan 10-5, 15 ditemukan pada cawan 10-6, dan <30 pada cawan 10-7.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia, Jakarta.

http://kumpulanblogger.com

Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lim,D. 1998. Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill book, New york.

Mila Ermila, 2005, Penuntun Praktikum Mikrobiologi.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.

Volk, dan Wheeler,1993 . Mikrobiologi Dasar Jilid 1.

Jakarta.

 

 

 

Sterilisasi dan Pengenalan Alat

 

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKRIBIOLOGI-VIROLOGI

 

Disusun oleh :

Masnelli Masri

Muharindi Nurlia

Risa Luvita Octaviani

Rizki Kurniawan

Siti Jamilah

Hery Herwanto

 

Kelompok : 1

Kelas : 3C

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

Dengan segala kerendahan hati, kami menyusun laporan praktikum ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah “Praktikum Mikrobiologi”. Dengan selesainya laporan ini kami tidak lupa mengucapkan terimikasih kepada:Dosen pembimbing praktikum mikrobiologi, yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga terselesainya laporan ini. Serta teman-teman yang ikut serta membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini belum sempurna, untuk itu kritik, saran, dan ide-ide yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan penyusunan yang akan datang. Harapan kami semoga laporan ini dapat berguna dan dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Wassalamualaikum Wr, Wb.

Jakarta,10 Oktober  2010

Penyusun ,

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur. Sebab pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar dapat diketahui cara-cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, Sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisir sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang.

Mikroorganisme  terdapat dimana saja, hampir disetiap tempat. Bahkan benda-benda, air minum, makanan kita sehari-hari yang kita anggap sudah steril dan bersih, setelah diteliti lagi ternyata masih banyak terdapat mikroorganisme didalamnya. Keberadaan mikroorganisme ini tentu saja ada yang membahayakan dan ada juga yang tidak.

Pada praktikum mikrobiologi – virologi ini, alat yang digunakan harus dalam keadaan steril yaitu keadaan terbebas dari segala bentuk kehidupan terutama mikroorganisme yang tidak kita inginkan, oleh sebab itu perlu mengetahui cara yang tepat untuk melakukan sterilisasi. Sterilisasi sangat penting dalam sebuah pengamatan mikroba, Karena keberhasilan dalam pengamatan sangat tergantung dari keberhasilan kita mensterilisasi. Sterilisasi sangat penting karena pada saat inilah kita akan membunuh mikroba kontaminan yang akan menghambat atau mengganggu mikroba yang akan kita amati.

  1. B.     Tujuan
    1. Pengenalan Alat Labolatorium
    2. Sterilisasi alat-alat mikrobiologi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, hygrometer, spektrofotometer dan lain-lain. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph, barograph.

Dari uraian tersebut, tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi-virologi antara lain :

  1. Mikroskop

Mikroskop adalah alat yang paling khas dalam laboratorium mikrobiologi yang memberikan perbesaran yang membuat kita dapat melihat struktur mikroorganisme yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Mikroskop yang tersedia menungkinkan jangkauan perbesaran yang luas dari beberapa kali hingga ribuan kali.

  1. Autoklaf

Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121ºC (250ºF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121ºC.

  1. Inkubator (Incubator)

Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042 misalnya adalah 10-70ºC.

  1. Hot plate stirrer dan Stirrer bar

Hot plate stirrer dan Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan. Pelat (plate) yang terdapat dalam alat ini dapat dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi. Pengadukan dengan bantuan batang magnet Hot plate dan magnetic stirrer seri SBS-100 dari SBS® misalnya mampu menghomogenkan sampai 10 L, dengan kecepatan sangat lambat sampai 1600 rpm dan dapat dipanaskan sampai 425ºC.

  1. Colony counter

Alat ini berguna untuk mempermudah perhitungan koloni yang tumbuh setelah diinkubasi di dalam cawan karena adanya kaca pembesar. Selain itu alat tersebut dilengkapi dengan skala/ kuadran yang sangat berguna untuk pengamatan pertumbuhan koloni sangat banyak. Jumlah koloni pada cawan Petri dapat ditandai dan dihitung otomatis yang dapat di-reset.

  1. Laminar Air Flow (LAF)

Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena LAF mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar UV beberapa jam sebelum digunakan.

  1. Mikropipet (Micropippete) dan Tip

Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 µl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1µl sampai 20 µl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 µl. dalam penggunaannya, mikropipet memerlukan tip.

  1. Cawan Petri (Petri Dish)

Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml.

  1. Tabung reaksi (Reaction Tube / Test Tube)

Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi. Untuk alasan efisiensi, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.

  1. Labu Erlenmeyer (Erlenmeyer Flask)

Berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair dan lain-lain. Terdapat beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, 1000 ml dan sebagainya.

  1. Gelas ukur (Graduated Cylinder)

Berguna untuk mengukur volume suatu cairan, seperti labu erlenmeyer, gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Pada saat mengukur volume larutan, sebaiknya volume tersebut ditentukan berdasarkan miniskus cekung larutan.

  1. Tabung Durham

Tabung durham berbentuk mirip dengan tabung reaksi namun ukurannya lebih kecil dan berfungsi untuk menampung/menjebak gas yang terbentuk akibat metabolisme pada bakteri yang diujikan. Penempatannya terbalik dalam tabung reaksi dan harus terendam sempurna dalam media (jangan sampai ada sisa udara).

  1. Jarum Inokulasi

Jarum inokulasi berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam atau ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulasi biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran (loop) dan disebut ose atau inoculating loop/transfer loop, dan yang berbentuk lurus disebut inoculating needle/Transfer needle. Inoculating loop cocok untuk melakukan streak di permukaan agar, sedangkan inoculating needle cocok digunakan untuk inokulasi secara tusukan pada agar tegak (stab inoculating).

  1. Spektrofotometer

Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet.

  1. Pembakar Bunsen (Bunsen Burner)

Pembakar Bunsen berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril. Api yang menyala dapat membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari bawah dan diharapkan kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran tersebut. Pembakan Bunsen ini digunakan untuk sterilisasi jarum ose atau yang lainnya.

  1. Pinset

Pinset berfungsi untuk mengambil atau memindahkan benda dengan menjepit misalnya saat memindahkan cakram antibiotik.

  1. Sterilisasi

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri.

Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Sterilisasi adalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu :

  1. Sterilisasi Uap

Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organisme tersebut.

Prinsip cara kerja autoklaf

Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 121ºC. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 121ºC dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 121ºC atau 249,8ºF adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 100ºC, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan mendidih pada suhu 121ºC. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 121ºC untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 121ºC dan tekanan 15 psi selama 15 menit.

Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi. Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik.

  1. Sterilisasi Panas Kering

Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170ºC dengan waktu 1-2 jam.

Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah.

Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastik.

  1. Sterilisasi dengan penyaringan

Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini.

  1. Sterilisasi gas

Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh. Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya.

  1. Sterilisasi dengan radiasi

Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan untuk mensterilkan jaringan yang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk jaringan yang dikeringkan secara liofilisasi, sterilisasi radiasi dilakukan pada temperatur kamar (proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan, tidak meninggalkan residu dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virus sampai batas tertentu. Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40 derajat Celsius. Teknologi ini sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi.

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

  1. A.    Perkenalan Alat

Alat :

  1.  Spektofotometer
  2. Incubator
  3. Oven
  4. Autoklaf
  5. Laminar air flow
  6. Spatel dugalsky
  7. Mikropipet dan tip
  8. Cawan petri
  9. Tabung reaksi
  10. Labu Erlenmeyer
  11. Beaker glass
  12. Tabung durham
  13. Pembakar Bunsen
  14. Pinset colony counter
  15. Jarum ose
  16. Jarum tanam tajam
  17. Kaca silinder
  18. Kulkas
  1. B.     Sterilisasi

Alat :

  1. Petri dish
  2. Pipet
  3. Jarum inokulasi
  4. Tabung durham
  5. Spatel drugalsky
  6. Pembakar Bunsen

Bahan :

  1. Kertas yellow page
  2. Alcohol

Cara kerja :

  1. Jarum inokulasi (jarum tanam tajam dan jarum oase)
    1. jarum dibakar hingga merah berpijar agar bakteri benar-benar mati,
    2. dicelupkan ke dalam alcohol 70%
    3. dibakar kembali untuk menghilangkan sisa alcohol.
    4. Spatel drugalsky
      1. spatel drugalsky dilewatkan diatas api berulang-ulang agar bakteri benar-benar mati
      2. dicelupkan ke dalam alcohol 70%
      3. dilewatkan kembali untuk menghilangkan sisa alcohol
      4. Petridish

Sterilisasi petridish ini dibungkus dengan menggunakan kertas yellow page kemudian dimasukan kedalam oven selama 2 jam. Pembungkusan dilakukan dengan cara :

  1. Dicuci petridish dengan air lalu dikeringkan, kemudian dicuci dengan alcohol dan dikeringkan
  1.    b.                                              c.
  1.                                          d.

e.

  1. Diletakkan petridish diatas kertas yellow page
  2. Ditarik kedua sisi kertas keatas dan dilipat kearah dalam
  3. Ditekuk lipatan tersebut kearah luar dan dilipat kearah luar
  4. Masing-masing sisi dilipat kedalam.
  5. Dimasukkan kedalam oven dengan suhu 160ºC selama 2 jam
  6. Pipet

Sterilisasi petridish ini dibungkus dengan menggunakan kertas yellow page kemudian dimasukan kedalam oven selama 2 jam, jangan lupa berikan label ukuran pipet tersebut. Pembungkusan dilakukan dengan cara :

  1. Dicuci pipet dengan air lalu dikeringkan, kemudian dicuci dengan alcohol dan dikeringkan.
  1.                    b.                                                           c.
  1.                  d.                                           e.                               f.
  2. Dibagi yellow page menjadi 3 bagian
  3. Diletakkan pipet secara menyudut ± 45º dan tekuk ujung atas kertas kearah dalam menutupi mulut pipet
  4. Digulung-gulungkan kertas tersebut
  5. Ketika kertas  tersebut hampir habis terbungkus, sambungkan satu bagian kertas yellow page
  6. Digulung-gulungkan kembali kertas yellow page sampai semua bagian pipet tertutup
  7. Dimasukkan kedalam oven dalam suhu 160ºC selama 2 jam
    1.                                     h.                                                             i.
    2. Untuk membuka bungkusannya putar sambil ditarik perlahan kertas yellow page yang membungkus pipet dimulai dari bagian ujung atas, kemudian pasangkan bulp.
    3. Pegang bagian bulp kemudian buka bungkus bagian ujung bawah.
    4. Pipet siap digunakan dalam keadaan steril.
    5. LAF
      1. Disemprotkan alcohol pada dinding kaca LAF
      2. Nyalakan lampu dan fan kemudian sinar UV didiamkan selama 15 menit
      3. Dimatikan sinar UV dan LAF siap digunakan
      4. Oven
        1. Dibuka oven dan masukkan alat-alat yang siap untuk disterilisasi
        2. Dinyalakan oven denga menekan tombol “power” atau “ON”, atur suhu menjadi 160ºC
        3. Biarkan suhu naik menjadi 160ºC ± selama 2 jam, setelah suhu naik 160ºC tunggu selama 2 jam. Setelah 2 jam biarkan suhu turun menjadi 30ºC
        4. Dibuka oven dan alat-alat sudah siap digunakan dalam keadaan steril
        5. Incubator
          1. Dibuka inkubator dan masukkan medium yang akan dibiakkan
          2. Dinyalakan incubator denga menekan tombol “power”, atur suhu konstan 37ºC
          3. Biarkan medium dalam incubator selama 1×24 jam untuk bakteri atau 2×24 jam untuk jamur
          4. Autoklaf
            1. Dimasukkan air kedalam autoklaf sampai tanda batas air yang ditentukan
            2. Masukkan alat-alat yang akan disterilisasi diatas tempat penyimpanan alat-alatnya
            3. Tutup dan kunci autoklaf dengan menguncinya secara berlawanan tetapi bersamaan
            4. Nyalakan autoklaf dan tunggu suhu naik menjadi 121ºC selama ± 15-20 menit
            5. Setelah suhu naik, tunggu selama 15-20 menit.
            6. Tunggu suhu turun kembali, kemudian matikan autoklaf, dan alat-alat siap digunakan adalam keadaan steril.
            7. Perlakuan secara aseptis
            8. Mensterilkan meja kerja
  1. Menuang media
  1. Memindahkan biakan secara aseptis
  1. Memindahkan biakan dari cawan

e. Memindahkan cairan dengan pipet

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Hasil

No.

Nama

Fungsi

Prinsip Kerja

1.

Spektrofotometer

Mengukur kerapatan optis dari suatu cairan

Berdasarkan prosentase transmisi dari suatu suspense yang akan diukur pada panjang gelombang tertentu

2.

Inkubtor

Memelihara biakan pada suhu konstan tanpa pengocokan

Menjaga suhu tetap konstan dengan aliran udara sebagai penghantarnya

3.

Oven

Sterilisasi alat-alat gelas

Mensterilkan alat dengan udara panas kering pada suhu tinggi dengan aliran listrik

4.

Autoklaf

Sterilisasi medium atau alat-alat yang tahan terhadap suhu dan tekanan tinggi

Pemanasan dengan uap air panas bertekanan tinggi

5.

Laminar Air Flow (LAF)

Ruang steril yang dipergunakan untuk memindahkan mikroorganisme

Mensterilkan udara sekitar dengan radiasi sinar UV secara horizontal

6.

Spatel drugalsky

Mentransfer biakan

7.

Mikropipet dan tip

Memindahkan cairan yang bervolume kecil

8.

Cawan petri

Membiakkan mikroorganisme

9.

Tabung reaksi

Menumbuhkan mikroba

10.

Labu Erlenmeyer

Menampung larutan

11.

Beaker Glass

Preparasi media, menampung aquadest dan lain-lain

12.

Tabung durham

Menampung atau menjebak gas yang terbentuk akibat metabolisme bakteri, biasanya digunakan untuk bakteri koliform

13.

Pembakar Bunsen

Menciptakan kondisi yang steril

14.

Pinset

Mengambil benda

15.

Colony Counter

Menghitung colony bakteri atau jamur

16.

Jarum Ose

Mentransfer bakteri

Mengangkat sel

17.

Jarum Tanam Tajam

Mentransfer jamur

Mengangkat hifa

18.

Kaca silinder

Tempat larutan antibiotic

19.

Kulkas

Menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Mengalirkan udara dingin pada medium

  1. B.     Pembahasan

Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui berbagai fungsi atau prinsip kerja setiap alat yang ada di laboratorium mikrobiologi. Alat-alat ini terdiri dari alat non gelas berupa ; mikropipet dan tip. Alat gelas berupa; Cawan petri, tabung reaksi, spatel drugalsky, pipet volume, tabung durham, dan erlenmeyer. Alat instrumen berupa; oven, inkubator, Laminar air flow, Autoklaf dan Spektrofotometer. Alat lain berupa; jarum ose dan jarum tanam tajam.

Incubator digunakan untuk mengembangbiakkan suatu mikroorganisme pada suhu konstan yaitu 37ºC. Karena pada umumnya mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dengan baik  pada suhu 35º-38ºC. Pada bakteri, umumnya dibutuhkan waktu 1×24 jam untuk dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan pada jamur dibutuhkan waktu 2×24 jam untuk dapat tumbuh dengan baik.

Sterilisasi sangat  penting dilakukan untuk menghindari kontaminasi dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Sebelum alat-alat disterilisasi dengan menggunakan instrument seperti oven dan autoklaf, alat-alat tersebut harus dibungkus terlebih dahulu dengan kertas untuk menghindari pecahnya alat-alat akibat tekanan yang tinggi. Biasanya kertas yang digunakan adalah kertas yellow page, karena kertas ini berbeda dengan kertas koran biasanya yaitu lebih kuat dari kertas koran sehingga lebih tahan terhadap tekanan tinggi.

Alat-alat laboratorium mikrobiologi ini memiliki teknik sterilisasi yang tidak semuanya sama antara lain :

  1. Alat gelas

Alat-alat gelas ini disterilkan dengan menggunakan oven, atau disebut juga hot air sterilization. Alat-alat gelas disterilkan oleh udara panas di dalam oven pada suhu 160ºC selama 2 jam waktu ini diperlukan agar alat-alat tersebut benar-benar telah terbebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Alat-alat yang disterilkan dengan menggunakan oven adalah alat yang tahan terhadap panas.

  1.  Alat non gelas

Alat-alat non gelas ini disterilkan dengan menggunakan autoklaf yaitu dengan menggunakan uap air panas bertekanan tinggi yaitu 121ºC 2 atm selama 15-20 menit. Keuntungan menggunakan alat ini adalah dapat membunuh seluruh mikroorganisme dengan cepat, dapat membunuh virus dan tidak ada absorbs seperti pada umumnya yang terjadi pada penggunaan filter. Kerugiannya antara lain dapat menurunkan pH. Alat-alat yang disterilkan dengan autoklaf adalah alat yang tidak tahan terhadap panas atau mudah meleleh.

  1. Alat-alat lain

Jarum tanam tajam dan jarum ose, alat ini disterilkan dengan menaruh benda pada nyala api bunsen sampai merah membara sehingga bakteri benar-benar mati. Jarum tanam tajam digunakan hanya untuk mentransfer jamur karena bentuknya yang runcing dapat mengangkat hifa pada jamur. Sedangkan jarum ose hanya digunakan untuk mentransfer bakteri karena permukaan jarum yang luas (berbentuk bulat) sehingga dapat mengambil satu sel bakteri. Jamur merupakan multiseluler yang mempunyai rambut-rambut halus bukan sel sehingga sulit diangkat menggunakan jarum ose sedangkan bakteri merupakan uniseluler yang mempunyai satu sel sehingga tidak dapat diambil dengan menggunakan jarum tanam tajam.

Praktikum dilakukan harus secara aseptis. Sebelum praktikum berlangsung, tangan praktikan harus terbebas dari mikroorganisme dengan cara mencuci tangan terlebih dahulu agar tidak terjadi kontaminasi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan praktikum, sehingga hasil praktikum sesuai dengan apa yang diharapkan. Sesudah praktikum tangan harus dicuci kembali agar terbebas dari mikroorganisme yang menempel pada saat praktikum sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada saat pengerjaan praktikum baik itu mentransfer bakteri atau jamur, menuang biakan atau memindahkan biakan harus dilakukan dekat dengan api sehingga tidak ada mikroorganisme lain yang tidak diharapkan ikut berpindah atau menempel. Selain itu tabung reaksi, Erlenmeyer harus ditutup dengan menggunakan kapas untuk mencegah masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan.

BAB V

KESIMPULAN

 

  1. Sterilisasi bertujuan untuk membebaskan suatu bahan dan bahan dari segala macam bentuk kehidupan terutama mikroorganisme yang tidak diiginkan.
  2. Alat-alat praktikum mikrobiologi-virologi terdiri dari alat non gelas berupa ; mikropipet dan tip. Alat gelas berupa; Cawan petri, tabung reaksi, spatel drugalsky, pipet volume, tabung durham, dan erlenmeyer. Alat instrumen berupa; oven, inkubator, Laminar Air Flow, Autoklaf dan Spektrofotometer. Alat lain berupa; jarum ose dan jarum tanam tajam.
  3. Cara sterilisasi alat-alat gelas dengan menggunakan oven, sedangkan alat-alat non gelas menggunakan autoklaf.
  4. Praktikum harus dilakukan secara aseptis untuk menghindari terkontaminasinya mikroorganisme yang tidak diinginkan baim itu pada alat-alat praktikum, medium dan pada anggota tubuh praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ferdias, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Indra., 2008, http//ekmon-saurus/bab-3-Sterilisasi/.htm.

Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Moningka,Harvey.,2008,http://harveymoningka.wordpress.com/teknik laboratorium- pengenalan-alat-dan-bahan/trackback/.

Gambar

Mikroskop                             Oven                               Autoklaf

Incubator                                           Laminar Air Flow

Petridish                 Tabung Reaksi      Rak Tabung Reaksi

Erlenmeyer                      Pipet Ukur                       Mikropipet

Jarum Tanam Tajam dan Ose        Tabung Durham         Pembakar Bunsen

Spatel Drugalsky, jarum ose dan jarum tanam tajam.

MAKALAH FARMAKOLOGI HORMON PROGESTERON DAN KONTRASEPSI HORMONAL

BAB I
PENDAHULUAN

Pada manusia dan beberapa binatang, progesteron diproduksi di ovarium (khususnya setelah ovulasi di corpus luteum), pada otak, selama kehamilan, dan pada plasenta.
Pria dan wanita sama-sama memproduksi progesteron, namun wanita tercatat memproduksi hormon progesteron dua kali lebih banyak dibanding pria.
Wanita menggunakan progesteron bersama dengan hormon wanita lain seperti estrogen untuk memfasilitasi proses reproduksi. Progesteron ditemukan di ovarium, kelenjar adrenal, dan plasenta.
Kontrasepsi adalah alat untuk mencegah kehamilan setelah berhubungan intim. Alat ini atau cara ini sifat tidak permanen dan memungkinkan pasangan untuk mendapatkan anak apabila diinginkan. Ada berbagai macam jenis Alat Kontrasepsi yang tersedia di pasaran yang dapat dibeli dengan bebas.
Pil kontrasepsi dipergunakan oleh kurang lebih 50 juta akseptor di seluruh dunia. Di Indonesia diperkirakan kurang lebih 60% akseptor mempergunakan pil kontrasepsi. Jumlah ini tampaknya akan tetap tinggi dibandingkan dengan jumlah akseptor yang mempergunakan cara kontrasepsi yang lain. Pil mengakibatkan perlunya tenaga pelayanan lebih banyak dibandingkan IUD, sehingga merupakan beban yang berat bagi tenaga medis serta para medis. Oleh karena itu perlu pelayanan yang diatur oleh tenaga terlatih yang terdapat dalam masyarakat sendiri. Sehubungan dengan ini diperlukan pengetahuan dasar serta petunjuk-petunjuk untuk pelaksana pelayanan tersebut, baik untuk seleksi akseptor maupun cara mengatasi keluhan-keluhan yang ditemukan

BAB II
HORMON PROGESTERON DAN KONTRASEPSI HORMONAL

1. Hormon Progesteron
A. Definisi Hormon Progesteron
Progesteron adalah hormon steroid yang berperan dalam siklus menstruasi wanita, mendukung proses kehamilan, dan embriogenesis. Progesteron tergolong kelompok hormon progestogen, dan merupakan hormon progestogen yang banyak terdapat secara alami.
Tanaman Dioscorea mexicana mengandung senyawa steroid diosgenin, yang dapat diubah menjadi progesteron di laboratorium. Tanaman lain yang dapat dimanfaatkan untuk mensintesis progesteron adalah Dioscorea pseudojaponica dan Dioscorea villosa.
Pada manusia dan beberapa binatang, progesteron diproduksi di ovarium (khususnya setelah ovulasi di corpus luteum), pada otak, selama kehamilan, dan pada plasenta.
Pria dan wanita sama-sama memproduksi progesteron, namun wanita tercatat memproduksi hormon progesteron dua kali lebih banyak dibanding pria.
Wanita menggunakan progesteron bersama dengan hormon wanita lain seperti estrogen untuk memfasilitasi proses reproduksi. Progesteron ditemukan di ovarium, kelenjar adrenal, dan plasenta.
Progesteron juga disimpan dalam sel lemak tertentu. Di luar tubuh manusia, progesteron dapat ditemukan dalam satu jenis ubi tertentu.
Wanita yang telah mengalami menopause dan gadis remaja prapubertas memiliki tingkat progesteron yang sangat rendah.
Seorang wanita yang memiliki tingkat rendah progesteron selama masa aktif reproduksi disebut mengalami defisiensi atau kekurangan progesteron.
Gejala kekurangan progesteron meliputi menstruasi yang tidak teratur, kista ovarium, dan keguguran. Seorang wanita yang diduga mengalami kekurangan progesteron akan diminta untuk melakukan pemeriksaan sampel darah.
Sebelum melakukan pemeriksaan sampel darah, pasien diminta untuk tidak mengambil pil KB, suplemen estrogen, atau suplemen progesteron setidaknya satu bulan sebelum pengujian agar hasil pemeriksaan akurat.

B. Progesteron memiliki efek fisiologis
a) Efek Pada Sistem Reproduksi
a. Menyiapkan uterus (rahim) untuk kehamilan
b. Selama kehamilan, progesteron juga menurunkan respon kekebalan tubuh ibu, untuk menerima janin.
c. Menurunkan pergerakan otot halus uterus (rahim)
d. Menghambat laktasi selama kehamilan
e. Penurunan kadar progesteron selama masa kehamilan mungkin menjadi awal mula proses kelahiran bayi.
f. Mempertebal dinding endometrium setelah terjadi ovulasi
g. Menghambat produksi LH agar korpus luteum mengalami degenerasi saat tidak terjadi fertilisasi
h. Menghambat laktasi saat kehamilan
i. Mempersiapkan endometrium untuk implantasi zigot
b) Efek Pada Sistem Saraf
• Progesteron termasuk hormon neurosteroid, berperan meningkatkan kemampuan belajar dan daya ingat
c) Efek Pada Sistem Lainnya
a. Menurunkan kejang otot polos
b. Menururunkan kerja empedu dan kandung kemih
c. Memiliki efek antiinflamasi dan mengatur respon kekebalan tubuh
d. Menormalkan pembekuan darah, kadar seng dan tembaga, kadar oksigen sel, dan lemak yang disimpan untuk energi.
e. Mempengaruhi kesehatan gusi, meningkatkan risiko gingivitis dan kerusakan gigi.
f. Mencegah kanker endometrium, dengan cara mengatur efek estrogen.
Oleh karena ketersediaan hayati progesteron sangat buruk ketika digunakan secara oral, maka hormon ini banyak disintesis sebagai progestin, akan tetapi progestin tidak mampu menggantikan peran progesteron alami karena pada banyak kasus progestin hanya diproduksi untuk menyerupai efek progesteron pada uterus.
C. Progesteron Selama Perkembangan Payudara
Pubertas seorang wanita ditandai oleh menstruasi dan perkembangan payudara. Payudara mulai tumbuh beberapa tahun sebelum menstruasi yang didorong oleh estrogen, prolaktin, dan hormon lainnya.
Setelah ovulasi dan menstruasi pertama, tubuh mulai memproduksi progesteron. Bersama dengan estrogen dan hormon lainnya, progesteron membantu melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan payudara.
Saat terjadi kekurangan progesteron, seorang wanita berpotensi mengalami hambatan perkembangan saluran air susu dan kelainan perkembangan bentuk payudara.

D. Progesteron Selama Konsepsi
Infertilitas atau sulit hamil adalah akibat lain dari defisiensi progesteron. Progesteron memberi sinyal pada payudara dan rahim untuk mempersiapkan konsepsi.
Payudara kemudian akan membesar untuk memproduksi lebih banyak air susu. Progesteron juga akan merangsang lapisan rahim menjadi lebih tebal dan leher rahim untuk mengeluarkan lendir lebih banyak.
Progesteron juga akan memberi tahu sistem kekebalan tubuh untuk menyesuaikan diri sehingga memungkinkan tubuh menerima sel telur yang dibuahi.
Jika konsepsi tidak terjadi, level progesteron akan menurun dan memicu dimulainya siklus menstruasi.
Tubuh seorang wanita dengan kadar progesteron rendah tidak akan mengalami perubahan untuk mempersiapkan pembuahan sehingga sulit untuk hamil.

E. Progesteron Selama Kehamilan
Selama kehamilan, progesteron membuat uterus menebal dan menstabilkan posisi janin. Progesteron juga terus merangsang pertumbuhan jaringan payudara untuk memproduksi air susu.
Hormon ini berperan pula memperkuat dinding panggul dan mendorong produksi lendir yang menyumbat leher rahim untuk mencegah masuknya infeksi. Semua hal ini akan melindungi janin.
Seorang wanita yang kekurangan progesteron menjadi lebih berpotensi mengalami keguguran. Level progesteron yang rendah juga membuat seorang wanita yang berhasil melahirkan akan kesulitan memberikan ASI secara efektif.

2. Kontrasepsi Hormonal
A. Definisi Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dimana bahan bakunya mengandung preparat estrogen dan progesterone.
Keuntungan kontrasepsi hormonal sangat luas disamping mencegah terjadinya kehamilan, menurut sebuah buletin yang dikeluarkan olehAmerican College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan diterbitkan dalam Obstetrics & Gynecology edisi Januari 2010.
“Kami sudah mengenal selama bertahun-tahun bahwa kontrasepsi hormonal memiliki keuntungan kesehatan diluar mencegah kehamilan,” kata penulis Robert L. Reid, MD, dari Kingston, Ontario, Kanada sebagai penulis utama, dalam suatu rilis berita.
Selama tahun-tahun reproduksi, lebih dari 80% wanita di Amerika Serikat menggunakan beberapa bentuk kontrasepsi hormonal, seperti kontrasepsi oral atau pil, patch, single-rod progestin dan implan lainnya, suntikan, cincin vagina, dan intrauterine device (IUD). Selain untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, kontrasepsi hormonal digunakan untuk mengobati gangguan menstruasi termasuk dismenore dan menoragiadengan efektif.
Laporan menunjukkan, sampai 90% wanita muda dismenore, yang merupakan penyebab utama absen sekolah dan bekerja. Jika tidak diobati, menoragia dapat menyebabkan anemia. Sekitar tiga perempat wanita dengan dismenore menanggapi dengan positif kombinasi pengibatan dengan kontrasepsi oral, dan cincin vagina mungkin sama efektifnya.
Kontrasepsi hormonal dapat diberikan secara oral dalam bentuk pil atau injeksi. Pil kontrasepsi mengandung kombinasi antara estrogen dan progesteron. Sedangkan sediaan injeksi hanya mengandung progesteron saja. Estrogen menghambat ovulasi dengan menekan hipotalamus dalam menskresi FSH releasing factor, LH releasing factor, dan selanjutnya mengurangi skresi FSH dan LH. Progesteron menghambat pergerakan sperma dengan meningkatkan kekentalan muskus pada servik, memperlambat transpor ovum, menghambat aktivasi enzim penghidrolisa sperma yang diperlukan untuk fertilisasi, menghambat aktivasi enzim penghidrolisa sperma yang diperlukan untuk fertilisasi, menghambat inflamasi, dan ovulasi melalui pengurangan skresi FSH dan LH.
Kedua hormon tersebut diperlukan untuk pematangan folikel gravida dalam ovarium, karena hambatan tersebut menyebabkan ovulasi terhambat yang mengakibatkan pembuahan tidak dapat terjadi. Selain itu, estrogen dan progesteron juga akan menyebabkan perubahan endometrium sehingga terjadi perubahan lendir serviks dan motilitas tuba falofi yang mengganggu pergerakan sperma.

B. Harus diperhatikan beberapa faktor dalam pemakaian semua jenis obat yang bersifat hormonal, yaitu:
Kontraindikasi mutlak: (sama sekali tidak boleh diberikan):kehamilan, gejala thromboemboli, kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor dalam rahim.
Kontraindikasi relatif (boleh diberikan dengan pengawasan intensif oleh dokter): penyakit kencing manis (DM), hipertensi, pendarahan vagina berat, penyakit ginjal dan jantung.

C. Macam – Macam Kontrasepsi Hormonal
Alat kontrasepsi modern yaitu bisa berupa Pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntik, implant (susuk), Tubektomi dan Vasektomi.
Alat kontrasepsi hormonal yang paling banhyak di jumpai di masyarakat yaitu ,suntik, pil kombinasi, IUD dan susuk(implant).
1. Kontrasepsi Suntikan
Tersedia suntik 1 bulan (estrogen + progesteron) dan 3 bulan (depot progesteron, tidak terjadi haid). Cukup praktis tetapi karena memasukkan hormon sekaligus untuk 1 atau 3 bulan, orang yang sensitif sering mengalami efek samping yang agak berat.
1) Depo provera yang mengandung medroxyprogestin acetate 50 Mg.
2) Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetate dan estrogen.
3) Norethindrone enanthate (Noresterat) 200 mg yang mengandung derivate testosteron.
• Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntikan (Hartanto H.2004)
a. Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan ovum untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing faktor dari hipotalamus.
b. Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa.
c. Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk implantasi dari hasil konsepsi.
• Keuntungan dan Kerugian
1) Keuntungan ( Hartanto.H,2004 )
a. Noristerat pemberiannya sederhana diberikan 200 mg sekali setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama 3 x suntikan pertama kemudian selanjutnya sekali tiap 12 minggu.
b. DMPA pemberiannya diberikan sekali dalam 12 minggu dengan dosis 150 mg.
c. Tingkat efektifitasnya tinggi
d. Tidak mengganggu pengeluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi.
e. Suntikan tidak ada hubungannya dengan saat bersenggama.
f. Tidak perlu menyimpan atau membeli persediaan.
g. Kontrasepsi suntikan dapat dihentikan setelah 3 bulan dengan cara tidak disuntik ulang, sedangkan IUD dan implant yang non-bioderdable harus dikeluarkan oleh orang lain.
h. Bila perlu, wanita dapat menggunakan kontrasepsi suntikan tanpa perlu memberitahukan kepada siapapun termasuk suami atau keluarga lain.
i. Tidak ditemukan efek samping minor seperti pada POK yang disebabkan estrogen, antara lain mual atau efek samping yang lebih serius seperti timbulnya bekuan darah disamping estrogen juga dapat menekan produksi ASI.
2) Kerugian ( Hartanto,2004).
a. Perdarahan yang tidak menentu
b. Terjadinya amenorhoe yang berkepanjangan
c. Berat badan yang bertambah
d. Sakit kepala
e. Kembalinya kesuburan agak terlambat beberapa bulan
f. Jika terdapat atau mengalami side efek dari suntikan tidak dapat ditarik lagi.
g. Masih mungkin terjadi kehamilan, karena mempunyai angka kegagalan 0.7%.
h. Pemberiannya harus dilakukan oleh orang yang profesional.
i. Menimbulkan rasa sakit akibat suntikan
j. Memerlukan biaya yang cukup tinggi.
• Saat Pemberian Yang Tepat ( Wiknjosastro,2001)
a. Pasca persalinan
1) Segera diberika ketika masih di Rumah Sakit atau setelah 6 minggu post partum dan sebelum berkumpul dengan suami.
2) Tepat pada jadwal suntikan berikutnya.
b. Pasca Abortus
1) Segera setelah perawatan atau sebelum 14 hari.
2) Jadwal waktu suntikan yang diperhitungkan.
c. Interval
1) Hari kelima menstruasi
2) Jadwal waktu suntikan diperhitungkan.
• Cara Penggunaan ( Saifuddin AB,2003).
Depo provera atau Depo progestin disuntikan secara intra muscular tiap 12 minggu dengan kelonggaran batas waktu suntik, biasa diberikan kurang satu minggu.
• Efek Samping dan Penanggulangannya ( Hartanto,H.2004)
• Efek samping ( Hartanto,H.2004)
1) Gangguan Haid :
a. Amenorhoe yaitu tidak datang haid setiap bulan selama menggunakan kontrasepsi suntikan kecuali pada pemakaian cyclofem.
b. Spoting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar haid yang terjadi selama menggunakan kontrasepsi suntikan.
c. metrorhagia yaitu perdarahan yang berlebihan jumlahnya
2) Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari jalan lahir dan terasa mengganggu ( jarang terjadi)
3) Perubahan berat badan
Berat badan bertambah beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah menggunakan kontrasepsi suntikan.
4) Pusing dan sakit kepala
Rasa berputar /sakit kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi, kedua sisi atau keseluruhan dari bagian kepala . Ini biasanya bersifat sementara.
5) Hematoma
Warna biru dan rasa nyeri pada daerah suntikan akibat perdarahan di bawah kulit.

• Penanggulangannya ( Saifuddin,A.B,2003)
1) Gangguan haid
a) Konseling
Memberikan penjelasan kepada calon akseptor bahwa pada pemakaian kontrasepsi suntikan dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut adalah akibat pengaruh hormonal suntikan dan biasanya gejala-gejala perdarahan tidak berlangsung lama
b) Pengobatan
Apabila pasien ingin mendapat haid, dapat diberikan pemberian Pil KB hari I sampai ke II masing masing 3 tablet, selanjutnya hari ke IV diberikan 1 x 1 selama 3 – 5 hari. Bila terjadi perdarahan, dapat pula diberikan preparat estrogen misalnya : Lymoral 2 x 1 sehari sampai perdarahan berhenti. Setelah perdarahan berhenti, dapat dilaksanakan “tepering off” ( 1 x 1 tablet ).
2) Keputihan
a) Konseling :
Menjelaskan kepada akseptor bahwa kontrasepsi suntikan jarang terjadi keputihan. Bila hal ini terjadi juga, harus dicari penyebabnya dan segera di berikan pengobatan.
b) Pengobatan :
Pengobatan medis biasanya tidak diperlukan. Pada kasus dimana cairan berlebihan dapat diberikan preparat Anti Cholinergis seperti extrabelladona 10 mg dosis 2 x 1 tablet untuk mengurangi cairan yang berlebihan. Perubahan warna dan bau biasanya disebabkan oleh adanya infeksi.
3) Perubahan Berat Badan
a) Konseling :
Menjelaskan kepada akseptor bahwa kenaikan berat badan adalah salah satu efek samping kontrasepsi suntikan. Kenaikan berat badan dapat juga disebabkan hal-hal lain. Hipotesa para ahli : DMPA merangsang pusat pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya. Disamping itu dapat pula terjadi penurunan berat badan.

b) Pengobatan :
Pengobatan diet merupakan pilihan utama. Dianjurkan untuk melaksanakan diet rendah kalori serta olahraga yang teratur. Bila terlalu kurus, dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila tidak berhasil dianjurkan untuk ganti cara kontrasepsi non hormonal.
4) Pusing dan Sakit Kepala
a) Konseling:
Menjelaskan kepada akseptor bahwa efek samping tersebut mungkin ada tetapi jarang terjadi dan biasanya bersifat sementara.
b) Pengobatan
Pemberian anti prostaglandin untuk mengurangi keluhan acetosal 500mg, 3 x 1 tablet/hari.
5) Hematoma
a) Konseling
Menjelaskan kepada calon akseptor mengenai kemungkinan efek samping
b) Pengobatan
Kompres dingin pada daerah yang membiru selama 2 hari. Setelah itu diubah menjadi kompres hangat sehingga warna biru/kuning menjadi hilang.

2. Kontrasepsi Oral ( Pil )
Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk tablet, mengandung hormon estrogen dan progestrone yang digunakan untuk mencegah hamil. Kontrasepsi oral terdiri atas lima macam yaitu :
1) Pil kombinasi, dalam satu pil terdapat estrogen dan progestrone sintetik yang diminum 3 kali seminggu. Pil kombinasi terdapat 3 tipe jenis berdasarkan variasi dosis, yaitu monofasik,bifasik dan trifasik.
2) Pil sekunseal, Pil ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan urutan hormon yang dikeluarkan ovariun pada tiap siklus. Maka berdasarkan urutan hormon tersebut,estrogen hanya diberikan selama 14 – 16 hari pertama di ikuti oleh kombinasi progestrone dan estrogen selama 5 – 7 hari terakhir.
3) Pil mini, merupakan pil hormon yang hanya mengandung progestrone dalam dosis mini ( kurang dari 0,5 mg) yang harus diminum setiap hari termasuk pada saat haid.
4) Once a moth pil, pil hormon yang mengandung estrogen yang ” Long acting ” yaitu biasanya pil ini terutama diberikan untuk wanita yang mempunyai Biological Half Life panjang.
5) Morning after pil, merupakan pil hormon yang mengandung estrogen dosis tinggi yang hanya diberikan untuk keadan darurat saja, seperti kasus pemerkosaan dan kondom bocor.
• Efek samping yang ditimbulkan kontrasepsi Oral ( Pil ).
a. Nousea
b. Nyeri payudara
c. Gangguan Haid
d. Hipertensi
e. Acne
f. Penambahan berat badan.
• Keuntungan Kontrasepsi Oral ( Pil )
a. Mudah menggunakannya
b. Cocok untuk menunda kehamilan pertama dari pasangan usia subur muda.
c. Mengurangi rasa sakit pada saat menstruasi
d. Dapat mencegah defesiensi zat besi (Fe)
e. Mengurangi resiko kanker ovarium.

3. Kontrasepsi Implant
Kontrasepsi implant mekanisme kerjanya adalah menekan ovulasi membuat getah serviks menjadi kental dan membuat endometrium tidak sempat menerima hasil konsepsi.
• Efek samping Implant
Pada umumnya efek samping yang ditimbulkan implant tidak berbahaya. Yang paling sering ditemukan adalah gangguan haid yang kejadiannya bervariasi pada setiap pemakaian, seperti pendarahan haid yang banyak atau sedikit, bahkan ada pemakaian yang tidak haid sama sekali. Keadaan ini biasanya terjadi 3 – 6 bulan pertama sesudah beberapa bulan kemudian. Efek samping lain yang mungkin timbul, tetapi jarang adalah sakit kepala, mual, mulut kering, jerawat, payudara tegang, perubahan selera makan dan perubahan berat badan.
• Keuntungan Implant.
a. Efektifitas tinggi setelah dipasang
b. Sistem 6 kapsul memberikan perlindungan untuk 5 tahun
c. Tidak mengandung estrogen
d. Efek kontraseptif segera berakhir setelah implantnya dikeluarkan
e. Implant melepaskan progestin dengan kecepatan rendah dan konstant, sehingga terhindar dari dosis awal yang tinggi
f. Dapat mencegah terjadinya anemia
• Kerugian Implant
a. Insersi dan pengeluaran harus dikeluarkan oleh tenaga terlatih
b. Petugas medis memerlukan latihan dan praktek untuk insersi dan pengangkatan implant
c. Lebih mahal
d. Sering timbul perubahan pola haid
e. Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri.
4. IUD
IUD ditempatkan setinggi mungkin dalam rongga rahim waktu pemasangan yang paling baik adalah 40 hari setelah persalinan.
• Cara Kerja
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
c. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi
• Keuntungan Kontrasepsi IUD
a. Sangat efektif. 0,6 – 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan)
b. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
c. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)
d. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
e. Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A
f. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
g. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
h. Dapat digunakan sampai manopouse
i. Tidak ada interaksi dengan obat-obat
j. Membantu mencegah kehamilan ekktopik
• Kelemahan Kontrasepsi IUD
Efek samping umum terjadi:
a. perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar mensturasi, saat haid lebih sakit
b. Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
d. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti pasangan
e. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas
f. Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR
g. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1 – 2 hari
h. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih yang dapat melepas
i. Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR dipasang segera setelah melahirkan)
j. Tidakmencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal
k. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu.

• Yang Boleh Menggunakan
a. Usia reproduktif
b. Keadaan nulipara
c. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d. Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui
f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
g. Risiko rendah dari IMS
h. Tidak menghendaki metoda hormonal
i. Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
j. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 – 5 hari senggama
k. Perokok
l. Gemuk ataupun kurus
m. Yang Tidak Diperkenankan Menggunakan
n. Sedang hamil
o. Perdarahan vagina yang tidak diketahui
p. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
q. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik
r. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat mempengaruhi kavum uteri
s. Penyakit trofoblas yang ganas
t. Diketahui menderita TBC pelvik
u. Kanker alat genital
v. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

D. Contoh Sediaan Kontrasepsi Hormonal
Estrogen Progestin Jumlah Pil
MONO FASIK
• EES 20 µg
• EES 30 µg

• EES 50 µg
Desogestrel 150 µg
Gestodem 75 µg
Desogestrel 150 µg
Levonogestrel 150 µg
Linestrenol 2,5 mg
Linestrenol 1 mg
28
28
28
28
21
28
TRIFASIK
• EES 30 µg
• EES 40 µg
• EES 30 µg
• EES 30 µg
• EES 40 µg
• EES 30 µg
Levonogestrel 50 µg
Levonogestrel 75 µg
Levonogestrel 125 µg
Noretindron asetat 1 mg
Noretindron asetat 1 mg
Noretindron asetat 1 mg
6
5
10
6
5
10
PIL MINI Noretindron asetat 0,35 mg
Noretindron asetat 0,35 mg 28
28
INJEKSI MPA 50 mg/ml & 150 mg/ml

Keterangan : µg = mikrogram
EES = Etinil Estradiol
MPA = Mesroksi Progesteron Asetat

E. Tanda – Tanda Bahaya atau Potensial Bahaya Pada Penggunaan Kontrasepsi Hormonal
Tanda-Tanda Kemungkinan Penyebab
1. Nyeri lambung hebat

2. Nyeri dada hebat

3. Sakit kepala hebat
4. Pandangan kabur,flashing setelah kena sinar, dan kebutaan
5. Nyeri kaki hebat (betid & paha) 1. Sakit pd kandung kemih, adenoma hepatik,pembekuan darah,dan pankreatis
2. Pembekuan darah pd paru-paru dan infark jantung
3. Stroke,migren,hipertensi
4. Stroke,hipertensi,masalah pembuluh darah temporer
5. Terjadinya pembekuan darah pada hepar

F. Contoh Kasus
1. Seorang pasien ingin mengetahui cara untuk mencegah kehamilan namun pasien tersebut memiliki penyakit genetik atau gangguan kesehatan yang dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan yang tidak aman, maka metode yang sesuai untuk pilihan pasien tersebut adalah dengan menjalani sterilisasi melalui cara tuba, yaitu mengikat/ memotong tuba fallopi atau pasien tersebut dapat juga menggunakan metode selain sterilisasi yaitu dengan menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (spiral KB/IUD). Cara ini memiliki efektifitas 95-98% tetapi membutuhkan tindakan pemasangan yang benar/tepat dan dapat menyebabkan iritasi.
2. Ada seorang ibu yang memutuskan untuk hamil kembali,dan bertanya alat kontrasepsi apa yang sesuai untuknya agar cepat kembali subur dan bisa hamil ?
Solusinya dengan menggunakan pil Kb, karena Salah satu keuntungan dari pil KB adalah cepat mengembalikan kesuburan. Setelah berhenti mengkonsumsi pil KB, hanya membutuhkan waktu 2 minggu sebelum kembali berevolusi. Haid akan mulai sekurang-kurangnya 4-6 minggu stelah konsumsi pil KB yang terakhir.

BAB III
KESIMPULAN

Progesteron adalah hormon steroid yang berperan dalam siklus menstruasi wanita, mendukung proses kehamilan, dan embriogenesis. Progesteron tergolong kelompok hormon progestogen, dan merupakan hormon progestogen yang banyak terdapat secara alami. Progesteron ini mempunyai efek terhadap sistem reproduksi, saraf, maupun sistem lainnya.
Harus diperhatikan beberapa faktor dalam pemakaian semua jenis obat yang bersifat hormonal, yaitu:
Kontraindikasi mutlak: (sama sekali tidak boleh diberikan):kehamilan, gejala thromboemboli, kelainan pembuluh darah otak, gangguan fungsi hati atau tumor dalam rahim.
Kontraindikasi relatif (boleh diberikan dengan pengawasan intensif oleh dokter): penyakit kencing manis (DM), hipertensi, pendarahan vagina berat, penyakit ginjal dan jantung.
Alat kontrasepsi modern yaitu bisa berupa Pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntik, implant (susuk), Tubektomi dan Vasektomi.
Alat kontrasepsi hormonal yang paling banhyak di jumpai di masyarakat yaitu ,suntik, pil kombinasi, IUD dan susuk(implant).
Semua jenis kontrasepsi tersebut tentunya memiliki mekanisme yang berbeda. Namun pada keuntungan dan kerugianya terdapat beberapa kesamaan di antara alat kontrasepsi pil, suntik, IUD, implant. Dari ke empat jenis kontrasepsi tersebut kerugian/efek samping yang sering terjadi dari ke empatnya yaitu seperi gangguan haid, terjadinya perdaraha, timbulnya jerawat, keputihan, serta terjadinya peningkatan berat badan.