LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK
ERITROSIT

Disusun Oleh : Kelompok 3
Dwi Utami
Masnelli masry
Risa Luvita Octaviani
Siti Ramdhaniati
Susi Susanti
Kelas : 6C /G2
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2012

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah PATOFISIOLOGI DAN KLINIK ini dengan judul “eritrosit. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Saw yang menjadi suri tauladan hingga akhir zaman.
Dalam penulisan makalah ini, banyak bantuan, dorongan, dan pengarahan dari berbagai pihak, karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa dan membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, begitu pula dalam penuyusunan makalah ini banyak kekurangan dan kesalahannya. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua ke jalan yang lurus dan diridoi-Nya.

Jakarta ,3 April 2012

Penyusun,

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Sel darah merah atau lebih dikenal sebagai eritrosit memiliki fungsi utama untuk mengangkut hemoglobin, dan seterusnya membawa oksigen dari paru-paru menuju jaringan. Dalam praktikum ini akan dilakukan metode penghitungan sel darah merah ( eritrosit ) secara manual dengan menggunakan kamar hitung. Namun, hitung eraitrosit lebih sukar daripada hitung lekosit. Orang yang telah berpengalaman saja memiliki kesalahan yang cukup besar dalam menghitung eritrosit (rata-rata sekitar 20%), apalagi orang yang belum berpengalaman atau kerjanya kurang teliti.
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan yang isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis.

2. Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar praktikan mengetahui cara menghitung sel darah merah (eritrosit) dengan metode manual/ kamar hitung dan jumlah normal eritrosit pada manusia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sel darah merah ( eritrosit )
Sel darah merah atau lebih dikenal sebagai eritrosit memiliki fungsi utama untuk mengangkut hemoglobin, dan seterusnya membawa oksigen dari paru-paru menuju jaringan. Jika hemoglobin ini bebas dalam plasma, kurang lebih 3 persennya bocor melalui membran kapiler masuk ke dalam ruang jaringan atau melalui membran glomerolus pada ginjal terus masuk dalam saringan glomerolus setiap kali darah melewati kapiler. Oleh karena itu, agar hemoglobin tetap berada dalam aliran darah, maka ia harus tetap berada dalam sel darah merah.
Dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel-sel darah merah primitif yang berinti diproduksi dalam yolk sac. Selama pertengahan trimester masa gestasi, hepar dianggap sebagai organ utama untuk memproduksi eritrosit, walaupun terdapat juga eritrosit dalam jumlah cukup banyak dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel darah merah hanya diproduksi sumsum tulang.
Pada sumsum tulang terdapat sel-sel yang disebut sel stem hemopoietik pluripoten, yang merupakan asal dari seluruh sel-sel dalam darah sirkulasi. Sel pertama yang dapat dikenali dari rangkaian sel darah merah adalah proeritroblas. Kemudian setelah membelah beberapa kali, sel ini menjadi basofilik eritroblas pada saat ini sel mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin.
Pada tahap selanjutnya hemoglobin menekan nukleus sehingga menjadi kecil, tetapi masih memiliki sedikit bahan basofilik, disebut retikulosit. Kemudian setelah bahan basofilik ini benar-benar hilang, maka terbentuklah eritrosit matur (Guyton&Hall Fisiologi Kedokteran Edisi9:529).
Hemoglobin terdiri dari 4 rantai polpeptida globin yang berikatan secara non-kovalen, yang masing-masing mengandung sebuah grup heme (molekul yang mengandung Fe) dan sebuah “oxygen binding site”. Dua pasang rantai globin yg berbeda membtk struktur tetramerik dengan sebuah “heme moiety” di pusat (center). Molekul heme penting bagi RBC untuk menangkap O2 diparu-paru dan membawanya keseluruh tubuh. Protein Hb lengkap dapat membawa 4 molekul O2 sekaligus. O2 yang berikatan dengan Hb memberi warna darah merah cerah.
Konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah pada pria normal 4,6-6,2 juta/mm3, pada perempuan 4,2-5,4 juta/mm3, pada anak-anak 4,5-5,1 juta/mm3. Dan konsentrasi hemoglobin pada pria normal 13-18 g/dL, pada perempuan 12-16 g/dL, pada anak-anak 11,2-16,5 g/dL (Kamus Kedokteran Dorland, edisi 29).
Dalam keadaan normal, sel darah merah atau eritrosit mempunyai waktu hidup 120 hari didalam sirkulasi darah, Jika menjadi tua, sel darah merah akan mudah sekali hancur atau robek sewaktu sel ini melalui kapiler terutama sewaktu melalui limpa. penghancuran sel darah merah bisa dipengaruhi oleh faktor intrinsik seperti :genetik, kelainan membran, glikolisis, enzim, dan hemoglobinopati, sedangkan faktot ekstrinsik : gangguan sistem imun, keracunan obat, infeksi seperti akibat plasmodium.
Jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis), sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal. Jika penghancuran sel darah merah I melebihpembentukannya, maka akan terjadi anemia hemolitik.
(Guyton&Hall Fisiologi Kedokteran Edisi 9 :61).
Fungsi utama eritrosit adalah untuk pertukaran gas yang membawa oksigen dari paru menuju ke jaringan tubuh dan membawa karbondioksida (CO₂) dari jaringan tubuh ke paru. Eritrosit tidak mempunyai inti sel tetapi mengandung beberapa organel dalam sitoplasma. Sitoplasma dalam eritrosit berisi hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe) sehingga dapat mengikat oksigen.
Eritrosit berbentuk bikonkaf dan berdiameter 7-8 mikron. Bentuk bikonkaf tersebut menyebabkan eritrosit bersifat fleksibel sehingga dapat melewatipembuluh darah yang sangat kecil dengan baik. Bentuk eritrosit pada mikroskop biasanya tampak bulat berwarna merah dan dibagian tengahnya tampak lebih pucat, atau disebut (central pallor) diameter 1/3 dari keseluruhan diameter eritrosit.

B. Kelainan Eritrosit
Kelainan eritrosit dapat digolongkan menjadi :
1) Kelainan berdasarkan ukuran eritrosit
Ukuran normal eritrosit antara 6,2 – 8,2 Nm (normosit)
Kelainan berdasarkan ukuran:
a) Makrosit
Ukuran eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm terjadi karena pematangan inti eritrosit terganggu, dijumpai pada defisiensi vitamin B₁₂ atau asam folat.
Penyebab lainnya adalahkarena rangsangan eritropoietin yang berakibat meningkatkatnya sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan retikulosit kedalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia megaloblastik, penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan pada keadaan dengan retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan.

b) Mikrosit
Ukuran eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm. Terjadinya karena menurunnya sintesa hemoglobin yang disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan mitokondria yang mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel ini didapatkan pada anemia hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia defisiensi besi.
c) Anisositosis
Pada kelainan ini tidak ditemukan suatu kelainan hematologic yang spesifik, keadaan ini ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apusan darah tepi (bermacam-macam ukuran). Sel ini didapatkan pada anemia mikrositik yang ada bersamaan anemia makrositik seperti pada anemia gizi.

2) Kelainan berdasarkan berdasarkan bentuk eritrosit
a) Ovalosit
Eritrosit yang berbentuk lonjong . Evalosit memiliki sel dengan sumbu panjang kurang dari dua kali sumbu pendek. Evalosit ditemukan dengan kemungkinan bahwa pasien menderita kelainan yang diturunkan yang mempengaruhi sitoskelekton eritrosit misalnya ovalositosis herediter.
b) Sferosit
Sel yang berbentuk bulat atau mendekati bulat. Sferosit merupakan sel yang telah kehilangan sitosol yang setara. Karena kelainan dari sitoskelekton dan membrane eritrosit.
c) Schistocyte
Merupakan fragmen eritrosit berukuran kecil dan bentuknya tak teratur, berwarna lebih tua. Terjadi pada anemia hemolitik karena combusco reaksi penolakan pada transplantasi ginjal.
d) Teardrop cells (dacroytes)
Berbentuk seperti buah pir. Terjadi ketika ada fibrosis sumsum tulang atau diseritropoesis berat dan juga dibeberapa anemia hemolitik, anemia megaloblastik, thalasemia mayor, myelofibrosi idiopati karena metastatis karsinoma atau infiltrasi myelofibrosis sumsum tulang lainnya.
e) Blister cells
Eritrosit yang terdapat lepuhan satu atau lebih berupa vakuola yang mudah pecah, bila pecah sel tersebut bisa menjadi keratosit dan fragmentosit. Terjadi pada anemia hemolitik mikroangiopati.
f) Acantocyte / Burr cells
Eritrosit mempunyai tonjolan satu atau lebih pada membrane dinding sel kaku. Terdapat duri-duri di permukaan membrane yang ukurannya bervariasi dan menyebabkan sensitif terhadap pengaruh dari dalam maupun luar sel. Terjadi pada sirosis hati yang disertai anemia hemolitik, hemangioma hati, hepatitis pada neonatal.
g) Sickle cells (Drepanocytes)
Eritrosit yang berbentuk sabit. Terjadi pada reaksi transfusi, sferositosis congenital, anemia sel sickle, anemia hemolitik.
h) Stomatocyte
Eritrosit bentuk central pallor seperti mulut. Tarjadi pada alkoholisme akut, sirosis alkoholik, defisiensi glutsthione, sferosis herediter, nukleosis infeksiosa, keganasan, thallasemia.
i) Target cells
Eritrosit yang bentuknya seperti tembak atau topi orang meksiko. Terjadi pada hemogfobinopati, anemia hemolitika, penyakit hati.

3) Kelainan berdasarkan warna eritrosit
a) Hipokromia
Penurunan warna eritrosit yaitu peningkatan diameter central pallor melebihi normal sehingga tampak lebih pucat. Terjadi pada anemia defisiensi besi, anemia sideroblastik, thallasemia dan pada infeksi menahun.

b) Hiperkromia
Warna tampak lebih tua biasanya jarang digunakan untuk menggambarkan ADT.
c) Anisokromasia
Adanya peningkatan variabillitas warna dari hipokrom dan normokrom. Anisokromasia umumnya menunjukkan adanya perubahan kondisi seperti kekurangan zat besi dan anemia penyakit kronis.
d) Polikromasia
Eritrosit berwarna merah muda sampai biru. Terjadi pada anemia hemolitik, dan hemopoeisis ekstrameduler.

4) Kelainan berdasarkan benda inklusi eritrosit
a) Basophilic stipping
Suatu granula berbentuk ramping / bulat, berwarna biru tua. Sel ini sulit ditemukan karena distribusinya jarang.
b) Krista
Bentuk batang lurus atau bengkok, mengandung pollimer rantai beta Hb A, dengan pewarnaan brilliant cresyl blue yang Nampak berwarna biru.
c) Heinz bodies
Benda inklusi berukuran 0,2 -22,0 Nm. Dapat dilihat dengan pewarnaan crystal violet / brillian cresyl blue.
d) Howell-jouy bodies
Bentuk bulat, berwarna biru tua atau ungu, jumlahnya satu atau dua mengandung DNA. Karena percepatan atau abnormalitas eritropoeisis. Terjadi pada anemia hemolitik, post operasi, atrofi lien.
e) Pappenheimer bodies
Berupa bintik, warna ungu dengan pewarnaan wright. Dijumpai pada hiposplenisme, anemia hemolitika.

C. Menghitung eritrosiT
Seperti hitung lekosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung lekosit, yaitu menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung lekosit. Orang yang telah berpengalaman saja memiliki kesalahan yang cukup besar dalam menghitung eritrosit (rata-rata sekitar 20%), apalagi orang yang belum berpengalaman atau kerjanya kurang teliti.
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan yang isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang biasa digunakan adalah :
a) Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g, aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi.
b) Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml. Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux.
c) Natrium klorid 0.85 %
• Prosedur
Darah diencerkan 100 x atau 200 x menggunakan pipet eritrosit atau tabung, kocok selama 3 menit supaya homogen. Larutan sampel kemudian dimasukkan/diteteskan ke dalam bilik hitung. Sel-sel eritrosit dihitung di bawah mikroskop dengan perbesaran sedang (40x). Cara menghitung sel eritrosit adalah : Letakkan bilik hitung di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (10x). Cari kotak penghitungan yang berada di tengah. Kotak tersebut terbagi dalam 25 kotak kecil dan setiap kotak kecil terbagi menjadi menjadi 16 kotak kecil-kecil. Sel eritrosit dihitung dalam 5 kotak kecil, yaitu 4 kotak di sudut dan 1 kotak lagi di tengah. Jumlah eritrosit dihitung dengan rumus :
• Jumlah eritrosit =
• Dimana n : jumlah eritrosit yang dihitung; Fp : factor pengenceran ; Vb : volume bidang yang dihitung
D. Nilai Rujukan
a) Dewasa pria : 4.50 – 6.50 (x10^6/mmk)
b) Dewasa wanita : 3.80 – 4.80 (x10^6/mmk)
c) Bayi baru lahir : 4.30 – 6.30 (x10^6/mmk)
d) Anak usia 1-3 tahun : 3.60 – 5.20 (x10^6/mmkl)
e) Anak usia 4-5 tahun : 3.70 – 5.70 (x10^6/mmk)
f) Anak usia 6-10 tahun : 3.80 – 5.80 (x10^6/mmk)

E. Masalah Klinis
a) Penurunan nilai : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan
b) Peningkatan nilai : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler
F. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan hasil laboratorium :
a) Pengambilan sampel darah di daerah lengan yang terpasang jalur intra-vena menyebabkan hitung eritrosit rendah akibat hemodilusi
b) Pengenceran tidak tepat
c) Larutan pengencer tercemar darah atau lainnya
d) Alat yang dipergunakan seperti pipet, bilik hitung dan kaca penutupnya kotor dan basah
e) Penghitungan mikroskopik menggunakan perbesaran lemah (10x)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan reagen :
a) Objek glass
b) Darah manusia
c) Kapas alcohol 70 %
d) Pipet thoma eritrosit
e) Larutan heyem
f) Kamar hitung improved neubauer
g) Mikroskop

B. Prosedur
a) Darah dihisap dengan pipet leukosit sampai tanda 0.5. Kelebihan darah pada ujung pipet dibersihkan.
b) Hisap reagen heyem sampai tanda 11 pada pipet ( pengenceran 20 x), lalu buat homogeny dengan mengocok pipet selama 3 menit.
c) Kamar hitung yang sudah disiapkan diisi dengan darah +Turk
d) Biarkan selama 3 menit lalu lihat di bawah mikroskop pembesaran 40X
e) Cari kotak penghitungan yang berada di tengah. Kotak tersebut terbagi dalam 25 kotak kecil dan setiap kotak kecil terbagi menjadi menjadi 16 kotak kecil-kecil. Sel eritrosit dihitung dalam 5 kotak kecil, yaitu 4 kotak di sudut dan 1 kotak lagi di tengah. Jumlah eritrosit dihitung dengan rumus : Jumlah eritrosit =
f) Dimana n : jumlah eritrosit yang dihitung; Fp : factor pengenceran ; Vb : volume bidang yang dihitung.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Praktikum
Dari praktikum menghitung jumlah eritrosit dengan metode manual didapatkan hasil sbb :
NO Nama Mahasiswa Kadar eritrosit
1 Anis Syahidah 1.910.000 / ul darah
2 Fitri Silviani 5.020.000 / ul darah
3 Susi Susanti 3.780.000 / ul darah
4 Beni Irawan 1.080.000 / ul darah
5 Shinta Puspita 1.910.000 / ul darah

B. PembahasaN
Pada praktikum menghitung jumlah eritrosit ini digunakan metode Red Blood Cell Count dengan menggunakan kamar hitung, pipet eritrosit, dan mikroskop. Pada cara ini tekniknya agak rumit, waktu yang diperlukan lebih lama, dan kesalahan yang dicapai 10 %.
Pada metode manual ini sel yang dihitung yaitu semua sel dalam 5 bidang yang terdiri dari 16 bidang kecil dan terletak pada bidang besar di tengah-tengah, sel yang menyinggung garis batas kiri dan atas, lalu lihat dengan perbesaran 40 x.
Dari table data hasil praktikum dapat dilihat bahwa yang memiliki nilai eritrosit normal hanya Fitri Silviani, yaitu dengan jumlah eritrosi berada pada rentang jumlah eritrosit normalnya yaitu 4 juta- 5 juta/ ul darah. Sedangkan jumlah pada ketiga sample darah selanjutnya kurang dari jumlah normalnya.
Hal tersebut dapat disebabkan karena ketiga orang tersebut mengalami anemia atau hidrasi berlebihan. Namun hal-hal tersebut terdapat juga factor- factor yang dapat mempengaruhi hasil laboratorium seperti pada pengambilan sampel darah di daerah tangan yang terpasang jalur intravena menyebabkan hitung eritrosit rendah, pengenceran yang tidak tepat, larutan pengencer tercemar darah / lainnya, alat yang digunakan seperti pipet, cover glass yang digunakan kotor/ basah, serta penghitungan mikroskopik yang kurang tepat.
Sel darah merah atau lebih dikenal sebagai eritrosit memiliki fungsi utama untuk mengangkut hemoglobin, dan seterusnya membawa oksigen dari paru-paru menuju jaringan. Jika hemoglobin ini bebas dalam plasma, kurang lebih 3 persennya bocor melalui membran kapiler masuk ke dalam ruang jaringan atau melalui membran glomerolus pada ginjal terus masuk dalam saringan glomerolus setiap kali darah melewati kapiler. Oleh karena itu, agar hemoglobin tetap berada dalam aliran darah, maka ia harus tetap berada dalam sel darah merah.
Eritrosit secara umum terdiri dari hemoglobin sebuah metalloprotein kompleks yang mengandung gugus heme, dimana dalam golongan heme tersebut, atom besi akan tersambung secara temporer dengan molekul oksigen (O2) di tubuh. Oksigen dapat secara mudah berdifusi lewat membran sel darah merah. Hemoglobin di eritrosit juga membawa beberapa produk buangan seperti CO2 dari jaringan-jaringan di seluruh tubuh.

Gambar eritrosit normal manusia
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan yang isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang biasa digunakan adalah :
a) Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g, aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi.
b) Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml. Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux.
c) Natrium klorid 0.85 %
Fungsi utama eritrosit adalah untuk pertukaran gas yang membawa oksigen dari paru menuju ke jaringan tubuh dan membawa karbondioksida (CO₂) dari jaringan tubuh ke paru. Eritrosit tidak mempunyai inti sel tetapi mengandung beberapa organel dalam sitoplasma. Sitoplasma dalam eritrosit berisi hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe) sehingga dapat mengikat oksigen.

BAB V
KESIMPULAN

1) Dari praktikum menghitung sel darah merah ( eritrosit ) dapat disimpulkan bahwa dari kelima sampel eritrosit hanya 1 sample saja yang mempunyai jumlah eritrosit normal. Hal tersebut dapat dipengaruhi karena adanya kesalah pada saat praktikum, cara pengambilan darah, cara perhitungan hingga factor dari kondisi subjek yang diambil samplenya tersebut.
2) Jumlah eritrosit normal pada wanita adalah 4.0-5.0 juta / ul darah
3) Jumlah eritrosit normal pada laki- laki adalah 4.5-5.5 juta /ul darah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dr. H. Sadikin,Mohamad. Biokimia Darah. 2001.Widya Medika.
2. Sylvia A.Price, Lorraine M.Wilson, Patofisiologi edisi 4, Penerbit Buku
Kedokteran.