BAB I
PENDAHULUAN

Patogenesis infeksi bakteri meliputi permulaan awal dari proses infeksi hingga mekanisme timbulnya tanda dan gejala penyakit. Ciri-ciri bakteri patogen yaitu kemampuan untuk menularkan, melekat pada sel inang, menginvasi sel inang dan jaringan, mampu untuk meracuni, dan mampu untuk menghindar dari sistem kekebalan inang. Beberapa infeksi disebabkan oleh bakteri yang secara umum dianggap patogen tidak menampakkan gejala atau asimptomatik. Penyakit terjadi jika bakteri atau reaksi imunologi yang ditimbulkannya menyebabkan suatu bahaya bagi seseorang.[1]
Salah satu bakteri yang bersifat patogen pada manusia yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri tersebut menyerang organ paru-paru manusia yang disebut dengan penyakit pneumonia.
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja di negara berkembang, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara Eropa. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian.
Dengan mengetahui faktor utama penyabab penyakit pneumonia serta faktor-faktor pencetus lain penyakit tersebut, maka upaya pencegahan untuk terjangkit penyakit pneumonia dapat diupayakan.

BAB II
BAKTERI STREPTOCOCCUS PNEUMONIAE

A. Streptococcus Pneumoniae (Pneomococcus)
Klasifikasi :
Kingdom : Bakteri
Filum : Frimicutes
Kelas : Cocci
Ordo : Lactobacillales
Famili : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Spesies : Streptococcus pneumoniae

Streptococcus Pneumoniae adalah diplococcus gram positif, sering berbentuk lancet atau berbentuk rantai, memiliki kapsul polisakarida yang memudahkan untuk pengelompokan antisera spesifik. Streptococcus Pneumoniae mudah dilisis dengan agen aktif pada permukaan misalkan garam empedu. Agen aktif permukaan umumnya menghambat atau tidak mengaktifkan penghalang autolysin dinding sel. Streptococcus Pneumoniae merupakan penghuni normal dari saluran pernapasan bagian atas manusia sekitar 5-40% dan dapat menyebabkan pneumonia, sinusitis, otitis, bronchitis, meningitis, dan proses infeksi lainnya.[1]

B. Morfologi dan Identifikasi
1. Ciri Organisme :
Secara mikroskopik Nampak sebagai kokus berbentuk lanset, biasanya berpasangan dan berselubung. Pneumococcus tip III berbentuk bulat, baik yang berasal dari eksudat maupun dari perbenihan. Rantai panjang terdapat bila ditanam dalam perbenihan yang hanya sedikit mengandung magnesium. Kman ini positif gram dan pada perbenihan tua dapat nampak sebagai gram negatif, tidak bergerak (tidak berflagel). Selubung terutama dibuat oleh jenis yang virulen.[2]
2. Kultur :
Streptococcus Pneumoniae membentuk koloni bundar kecil, pertama berbentuk kubah dan kemudian berkembang berbentuk pusat plateau dengan tepi yang mengalami peninggian. Streptococcus Pneumoniae merupakan hemolitik α pada agar darah. Pertumbuhannya ditingkatkan oleh 5-10% CO2.
3. Sifat pertumbuhan :
Kebanyakan energi didapat dari fermentasi glukosa, disertai oleh produksi asam laktat secara cepat, yang menghambat pertumbuhan. Netralisasi kultur broth dengan alkali dalam selang waktu tertentu akan terjadi pertumbuhan besar.

C. Struktur Antigen
1. Struktur komponen :
Polisakarida kapsuler secara imunologi dibedakan menjadi 84 tipe. Polisakarida merupakan suatu antigen yang mendapatkan respon sel B. Bagian somatik pneumococcus mengandung protein M dimana karakteristik untuk masing-masing tipe dan kelompok karbohidrat spesifik bersifat umum bagi semua pneumococci. Karbohidrat dapat dipresipitasi oleh protein reaktif C, yakni substansi yang didapat dalam serum pasien-pasien tertentu.
2. Reaksi Quellung :
Ketika pneumococcus dari tipe tertentu dicampur dengan serum antipolisakarida dari tipe sama atau dengan antiserum polivalen diatas slide mikroskop, kapsul dapat berkembang secara nyata. Reaksi ini bermanfaat untuk identifikasi cepat dan penentuan tipe organisme baik dalam sputum dan dalam kultur. Antiserum polivalen yang berisi antibodi hingga 84 tipe merupakan reagent yang baik untuk determinasi pneumococcus pada sputum segar pada pemeriksaan mikroskopis.

D. Patogenesis
1. Produksi Penyakit :
Streptococcus Pneumoniae menyebabkan penyakit melalui kemampuannya untuk berkembang biak didalam jaringan. Mereka tidak menghasilkan toksin. Virulensi dari organisme merupakan fungsi kapsulnya, yang dapat mencegah atau menunda pencernaan oleh fagosit. Serum yang mengandung antibodi terhadap polisakarida tipe spesifik dapat melindungi dari infeksi. Jika serum tersebut diserap oleh polisakarida tipe tertetu, maka serum tersebut akan kehilangan daya proteksinya. Hewan atau manusia yang diimunisasi dengan tipe pneumococcus tersebut dan memiliki antibodi presipitasi dan antibodi opsonisasi untuk tipe polisakarida tersebut.
2. Resistensi Alamiah
40-70% dari manusia kadang-kadang merupakan carrier pneumococcus yang virulen, maka mukosa pernapasan normal harus memiliki daya tahan alamiah bagi pneumococcus. Diantara faktor-faktor yang mungkin menyebabkan rendahnya resistensi dan berpengaruh pada infeksi pneumococcal adalah sebagai berikut :
a. Ketidak normalan saluran pernapasan
Virus dan infeksi-infeksi lain yang merusak sel permukaan : akumulasi abnormal mucus (alergi) yang melindungi pneumococcus dari fagositos, obstruksi bronchus (missal atelectasis) dan kerusakan saluran pernapasan disebabkan oleh bahan iritan yang mengganggu fungsi mucocilary.
b. Alkohol atau intoksikasi obat
Menyebabkan menekan kegiatan fagositik, menekan reflex batuk, dan memudahkan aspirasi bahan asing.
c. Mekanisme lain
Kekurangan gizi, kelemahan umum, anemia sickle cell, hiposplenisme, nefrosis atau difisiensi bahan tambahan.

E. Patologi
Infeksi pneumococcus menyebabkan pengeluaran cairan edema fibrin secara berlebihan kedalam alveoli, yang diikuti oleh sel darah merah dan leukosit yang menyebabkan konsolidasi dari paru-paru. Sebagian pneumococcus terdapat dalam eksudat ini, dan mereka dapat mencapai aliran darah melalui saluran limfa dari paru-paru. Dinding alveolar tetap utuh secara normal selama infeksi. Kemudian sel-sel mononuklear secara aktif melakukan fagosit pada debris, dan fase cairan ini secara bertahap diserap kembali. Pneumococcus ditangkap oleh fagosit dan dicerna secara intraseluler.
Angka kematian pada pneumonia tergantung pada ras, seks, umur dan keadaan umum penderita, tipe kumannya, luasnya bagian paru-paru yang terkena, ada tidaknya septikemia, ada tidaknya komplikasi, pemberian terapi spesifik, dan faktor-faktor lainnya.

F. Tanda-Tanda Klinis
Serangan pneumonia oleh pneumococcus biasanya mendadak, diikuti dengan demam, menggigil dan nyeri tajam pada pleura. Sputum mirip dengan eksudat alveolar, secara karakteristik berdarah atau berwarna merah kecoklatan. Awal penyakit ini, ketika demam menggigil, maka bakteremia tampak dalam 10-20% kasus. Dengan terapi antimikroba, penyakit biasanya hilang secara bertahap. Jika obat-obat diberikan secara awal, maka perkembangan konsolidasi terganggu.

G. Kekebalan
Kekebalan terhadap infeksi oleh pneumococcus adalah tipe spesifik yang tergantung pada antibodi terhadap polisakarida kapsuler dan pada fungsi fagositik. Vaksin dapat menimbulkan produksi antibodi terhadap polisakarida kapsuler.

H. Pengobatan
Karena pneumococcus bersifat sensitif terhadap antimikroba, perawatan awal biasanya berlangsung pada proses pemulihan yang cepat dan respon antibodi agaknya kurang berperan. Penisilin G merupakan obat pilihan. Tapi di Amerika Serikat 5-10% pneumococcus resisten terhadap penisilin dan kira-kira 20% agak resisten (MIC 0,1-1µg/ml). penisilin G dosis tinggi dengan MICs sebesar 0,1-2µg/mL ternyata efektif untuk menangani pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus tetapi tidak efektif menangani meningitis yang disebabkan oleh strain yang sama. Beberapa strain yang resisten penisilin ternyata juga resisten terhadap cefrizoxime, juga resisten terhadap tetrasiklin dan eritromisin. Pneumococcus peka terhadap vankomisin.
I. Epidemiologi, Pencegahan dan Pengawasan
Pneumonia oleh pneumococcus berjumlah sekitar 60% dari semua pneumonia bakterial. Ini merupakan penyakit endemik dengan angka kejadian tinggi pada carrier (pembawa penyakit). Pada perkembangan penyakit, faktor-faktor yang mempengaruhi lebih penting daipada pemaparan terhadap agen yang terinfeksi, dan carrier yang sehat jauh lebih sering mendistribusikan pneumococcus daripada pasien yang sakit. Sangat mungkin melakukan imunisasi terhadap individu dengan polisakarida tipe spesifik. Vaksin dapat memberikan 90% perlindungan terhadap bakterimia pneumonia. Diantara para pekeja tambang emas di Afrika Selatan, vaksin-vaksin yang memuat 14 tipe pneumococcus menguntungkan pasien yang memiliki penyakit sickle cell atau setelah splenectomi Pada tahun 1983, perluasan vaksin polisakarida yang memuat 23 tipe dilisensikan di Amerika Serikat. Vaksin-vaksin demikian sesuai bagi anak-anak dan bagi orang tua, orang yang lemah atau individu yang daya tahan tubuhnya rendah. Vaksin pneumococcus akan berkurang imunigenitasnya pada anak dibawah usia 2 tahun dan pada pasien yang menderita lymphoma, untuk pasien yang beresiko tinggi, pemberian propilaksis penisilin harus disertai dengan vaksinasi. Bahkan, diharapkan dapat mencegah faktor predisposisi, membuat diagnosis secara tepat, dan memulai kemoterafi dengan benar. Dewasa ini, banyak kematian yang disebabkan pneumonia oleh pneumococcus terjadi pada orang berusia diatas 50 tahun, orang dengan kekebalan alamiah yang terganggu, misalkan mereka dengan penyakit sickle cell atau asplenia dan mereka dengan bakteremia.

BAB III
BAKTERI STREPTOCOCCUS PNEUMONIAE PADA PENYAKIT PNEUMONIA

Peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi disebut pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap tahunnya menyerang sekitar 1% dari seluruh penduduk Amerika. Meskipun telah ada kemajuan dalam bidang antibiotik, pneumonia tetap merupakan penyebab kematian terbanyak keenam di Amerika Serikat. Munculnya organisme nosokomial (didapat dari rumah sakit) yang resisten terhadap antibiotik, ditemukannya organisme-organisme yang baru (seperti Legionella), bertambah banyaknya pejamu yang lemah daya tahan tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin memperluas spectrum derajat kemungkinan penyebab-penyebab pneumonia, dan ini juga menjelaskan mengapa pneumonia masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok.
Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi primer :
1. Aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi pada orofaring.
2. Inhalasi aerosol yang infeksius.
3. Penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal.
Aspirasi dan inhalasi agen-agen infeksius adalah dua cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran secara hematogen lebih jarang terjadi. Akibatnya faktor-faktor predisposisi termasuk juga berbagai defisiensi mekanisme pertahanan sistem pernapasan. Kolonisasi basilus gram negatif pada orofaring akibat aspirasi dan mekanisme patogenik banyak pneumonia gram negatif telah menjadi subjek penelitian akhir-akhir ini. [3]
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Pencandu alkohol, pasien pasca-operasi, orang-orang dengan penyakit gangguan pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya, adalah yang paling berisiko. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah, dan denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang ekstrim, pasien akan mengigil, gigi bergemelutuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk pencegahan vaksinnya pun sudah tersedia.
Penting juga untuk membedakan antara pneumonia yang didapat dari masyarakat dengan pneumonia yang didapat dari rumah sakit. Frekuensi relatif dari agen-agen penyebab pneumonia berbeda dari kedua sumber ini. Infeksi nosokomial lebih sering disebabkan oleh bakteri gram negatif atau Staphylococcus aureus dan jarang oleh pneumococcus atau Mycoplasma.
Streptococcus pneumoniae adalah penyebab yang paling sering dari pneumonia bakteri, baik yang didapat dari masyarakat maupun dari rumah sakit. Diantara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia pneumococcus merupakan yang paling banyak diselidiki. Pneumococcus umumnya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian bawah paru paling sering terkena karena efek gravitasi. Setelah mencapai alveoli, maka pneumococcus menimbulkan respons khas yang terdiri dari empat tahap berurutan :
1. Kongesti (4 sampai 12 jam pertama) : eksudat serosa masuk kedalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor.
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : paru tampak merah dan bergranula karena sel-sel darah merah, fibrin, dan leukosit PMN mengisi alveoli.
3. Hepatisasi kelabu (3 sampai 8 hari) : paru tampak kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.
4. Resolusi ( 7 sampai 11 hari) : eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehimgga jaringan kembali pada strukturnya semula.[3]

Penisilin merupakan obat yang sangat efektif. Yang berbahaya bila terjadi infeksi sekunder oleh Staphylococcus yang resisten terhadap penisilin dan antibiotika lainnya. Dosis yang lebih tinggi diperlukan untuk mengobati meningitis agar dapat mencapai selaput otak. Namun, akhir-akhir ini pneumococcus sudah resisten terhadap banyak preparat antibiotika, misalnya tetrasiklin, eritromisin, dan linkonmisin. Peningkatan resistensi terhadap penisilin juga terlihat pada Pneumococcus yang diisolasi dari New Guinea.
Imunisasi menjadi pengalaman sukses dunia kedokteran. Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yang dicanangkan di seluruh dunia, terbukti menurunkan angka kematian balita. Begitu pula dengan program imunisasi terhadap penyakit infeksi pernapasan akut memberikan kontribusi cukup besar dalam menurunkan angka kematian balita. Upaya pencegahan dengan pemberian vaksin merupakan komponen penting dalam menurunkan mortalitas.[4]

BAB IV
KESIMPULAN

Pneumonia adalah penyakit peradangan pada parenkim paru. Pneumonia adalah penyebab kematian keenam di Amerika Serikat. Organisme penyebab termasuk bakteri, virus, fungus dan protozoa.
Agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memilki dua cara transmisi yang utama yaitu aspirasi organisme patogenik yang telah berkolonisasi pada osofaring dan inhalasi aerosol infeksius. Yang lebih jarang, bakteri dapat mencapai parenkim paru melalui aliran darah dari bagian ekstrapulmonal atau dari penggunaan obat intravena. Pneumonia digolongkan berdasarkan patologi, mikrobiologi, dan klinis.
Klasifikasi mikrobiologis pneumonia didasarkan organisme penyebab yang diidentifikasi dengan mikrobiologi. Agen penyebab pneumonia bakteri dibagi menjadi organisme gram positif atau gram negative. Streptococcus pneumonia merupakan satu organisme gram positif merupakan penyebab pneumonia bakteri paling sering.
Pengobatan pneumonia yaitu dengan pemberian obat-obat antibiotik seperti penisilin. Pencegahan terhadap penyakit yang paling efektif yaitu melalui pemberian vaksin.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Brooks,Geo F. 2005. Mikrobiologi Kedokteran Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Medika
[2] Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: Binarupa Aksara
[3] Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC
[4] http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=175
(21 Oktober 2010)