LAPORAN PRAKTIKUM

UJI CEMARAN KOLIFORM DALAM SEDIAAN CAIR

 

 

Disusun oleh :

Masnelli Masri

Muharindi Nurlia

Risa Luvita Octaviani

Siti Jamilah

Hery Herwanto

Kelompok : 1

Kelas : 3C

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2010

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Air minum untuk sebagian besar daerah tempat tinggal dan kota diperoleh dari sumber permukaan sungai, kali dan danau. Persediaan air alamiah semacam itu, terutama kali dan sungai, kemungkinan besar tercemar oleh sampah domestik, pertanian, dan industri. Banyak penduduk kota tidak menyadari bahwa air yang mereka pakai itu telah digunakan sebelumnya. Penggunaan air kembali air merupakan suatu proses alamiah, sebagaimana diperlihatkan dalam siklus hidrologis. Tetapi di masa kini ada pandangan baru mengenai penggunaan kembali air, meningkatnya jumlah penduduk, adanya kebutuhanakan air dalam jumlahbanyak untuk keperluan industri maupun untuk irigasi daerah pertanian, telah menciptakan tuntutan baru terhadap sumber air yang tersedia. Sejalan dengan hal tersebut, telah timbul minat terhadap pengembangan metode-metode yang dapat diterima untuk membuat air “bekas pakai” menjadi aman dan sesuai untuk digunakan kembali.

Kontaminan yang mencemari air digolongkan ke dalam tiga kategori: kimiawi, fisik, dan hayati. Kontaminan-kontaminan tertentu dalam setiap kategori ini dapat mempunyai pengaruh nyata terhadap kualitas air. Dalam bab ini yang akan dibahas ialah kategori hayati.

Karena mempunyai potensi untuk berlaku sebagai pembawa mikroorganisme patogenik, air dapat membahayakan kesehatan dan kehidupan.

Bakteri golongancol iform merupakan bakteri yang dapat hidup hanya pada usus hewan mamalia termasuk manusia. Penyebaran kotoran baik manusia dan hewan yang tidak terkontrol dalam lingkungan perairan dapat menyebabkan lingkungan perairan tercemar oleh bakteri ini. Untuk mengetahui jumlah sel bakteri golongancoliform yang terdapat dalam sampel air, dilakukan metoda Jumlah Perkiraan Terdekat atau Most Probable Number, untuk menentukan apakah air yang digunakan masih sesuai peruntukannya sebagai air minum atau tidak.

  1. B.     Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mendeteksi keberadaan bakteri golongancoliform dalam air, sehingga mengetahui apakah air dapat dikonsumsi atau tidak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Mengingat bahwa air minum yang digunakan kemungkinan mengandung bakteri patogen maka sebelum digunakan harus diperiksa terlebih dahulu, sebab air minum harus bebas dari bakteri-bakteri patogen tersebut. Untuk pemeriksaan tersebut diperlukan pengujian bakteriologis air di laboratorium. Pengujian ini dapat menentukan air yang diperiksa tersebut mengandung bakteri patogen atau tidak. Alam prakteknya pengujian air secara bakteriologis untuk menentukan ada tidaknya bakteri bentuk koli.

Air tawar bersih yang layak minum, semakin langka di perkotaan. Sungai- sungai yang menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan. Itulah salah satu alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) yang disebut-sebut menggunakan air pegunungan banyak dikonsumsi. Namun, harga AMDK dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif baru yang murah, yaitu penggunaan Air minum isi ulang.

Uji kualitas air Ke dalam parameter mikrobiologis hanya dicantumkan Coli tinja dan total Coliforms.

a. Coli tinja, air yang mengandung coli tinja berarti air tersebut tercemar tinja. Tinja dari penderita sangat potensial menularkan penyakit yang berhubungan dengan air.

b.Total Coliforms, bila air yang tercemar coliform dapat mengakibatkan penyakit-penyakit saluran pernafasan.

Standar Air Minum, menurut standar WHO semua sampel tidak boleh mengandung E. coli dan sebaiknya juga bebas dari bakteri coliform. Standar WHO: Dalam setiap tahun, 95% dari sampel-sampel tidak boleh mengandung coliform dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung E. coli dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung coliform lebih dari 10 dalam 100 ml, Tidak boleh ada coliform dalam 100 ml dan dua sampel yang berurutan (AOAC, 2000). Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain.

Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik.

E. coli jika masuk ke dalam saluran pencernaan dalam jumlah banyak dapat  membahayakan kesehatan. WalaupunE.coli merupakan bagian dari mikroba normal saluran pencernaan, tapi saat ini telah terbukti bahwa galur-galur tertentu mampu menyebabkan gastroeritris taraf sedang hingga parah pada manusia dan hewan.

Sehingga, Air yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti

erbahaya yaitu dapat menimbulkan penyakit infeksius.

Menurut Soetarto (2008), semua organisme selalu membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Hal ini disebabkan semua reaksi biologis yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup berlangsung dalam medium air. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya air. Air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Tetapi sering sekali terjadi pengotoran dan pencemaran air dengan kotoran-kotoran dan sampah. Oleh karena itu air dapat menjadi sumber atau perantara berbagai penyakit seperti tipus, desentri, dan kolera. Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tersebut adalahSalmonella thyphosa, Shigella dysenteriae,dan Vibrio koma.

Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Terdapatnya bakteri coliform dalam air minum dapat menjadi indikasi kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Bakteri coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal coliform. E. coli adalah bagian dari faecal coliform. Keberadaan E. coli dalam air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh tinja. E. coli digunakan sebagai indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan;

a) E. coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan; jarang sekali ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi

b) E. coli mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika pemeriksaan dilakukan dengan benar.

c) Bila dalam air tersebut ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi penggunaan domestik.

d) Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E. coli dalam air tersebut.

Maka, untuk mendapat gambaran yang jelas mengenai kualitas air minum khususnya kandungan bakteri total coli dan Escherichia coli (fecal coli) dalam air minum dari depot air minum dan air minum yang telah tersedia, maka dilakukan penelitian tentang kualitas air minum.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Alat dan Bahan
  2. 1.      Alat

2.Tabung reaksi

3.Jarum Ose

4.Pembakar bunsen

5.Incubator

6.Erlenmeyer steril

7.Pipet

8.Mikropipet

9.Tabung Durham

  1. Cawan petri steril
  2. Gelas ukur steril

2)      Bahan

  1. Sampel air
  2. Media laktosa dengan tabung durham di dalamnya
  3. Media EMBA dan BGBB
  4. Zat warna gram
  1. B.     Prosedur Kerja
  2. 1.      Uji Duga
    1. Inokulum 3 tabung reaksi  berisi 10 ml laktosa cair konsentrasi lipat 2 (Double Strength) dengan masing-masing 10 ml sampel air.
    2. Inokulum 3 tabung reaksi  berisi  masing-masing 10 ml laktosa cair (Single Strength)  dengan masing-masing 1 ml sampel air.
    3. Inokulum 3 tabung reaksi  berisi  masing-masing 10 ml laktosa cair (Single Strength)  dengan masing-masing 0,1 ml sampel air.
    4. Inkubasi piaraan itu dalam incubator pada suhu 37­­oC selama 2×24 jam
    5. Amati setiap 24 jam

Adanya gas setelah 24 jam uji dinyatakan positif. Timbulnya gas setelah 24 jam pertama dikatakan uji dengan hasil meraguakan. Sedangkan tanpa gas setelah 48 jam dikatakan uji negatif, berarti air tidak tercemar benda tinja. Dengan hasil negatif pada uji duga, maka uji penetapan dan uji lengkap tidak perlu dilakukan.

  1. 2.      Uji Penetapan

Pada uji ini semua hasil uji duga positif maupun negatif harus dilakukan.

  1. Buat piaraan goresan pada EMBA atau EA dari piaraan dalam uji duga, dengan inokulum yang paling sedikit dan hasilnya positif.
  2. Inkubasikan piaraan itu dalam incubator suhu 37­­oC selam 2 x 24 jam
  3. Amati pertumbuhan koloni tipikal yang menunjukkan hasil uji positif

 

  1. 3.      Uji Lengkap
    1. Ambil 2 koloni tipikal dari EMBA dan EA dan masing-masing diinokulasikan kedalam laktosa cair dan yang lain digoreskan pada agar miring
    2. Inkubasikan pada incubator suhu 37oC selama 2 x 24 jam
    3. Amati terbentuknya gas di dalam tabung durham setiap 24 jam
    4. Buat pewarna Gram dari piaraan miring NA dan juga pewarnaan spora. terbentuknya  gas dalam waktu 24 jam dan bentuk sel batang serta tidak adanya spora dalam sel, maka mikroba yang ada di dalam air contoh tersebut koliform. Berarti sampel air telah tercemar bahan tinja.

 

 

 

  1. 4.      Lakukan Pewarnaan Gram

Karena bakteri koliform ini meliputi semua bakteri gram negatif, maka salah satu cara untuk mengetahui suatu bakteri yang terkandung dalam larutan (air suling) yaitu dengan cara pewarnaan gram dan di bentuk sel lubang. Maka dapat disimpulkan  apabila air positif tercemar koliform  pada pewarnaan gramnya  akan terbentuk gas warna merah dalam laktosa broth pada saat pewarnaan terakhir oleh zat warna safranin. Dan apabila saat penambahan safranin,  yang tidak terbentuk gas dalam laktosa broth dan berwarna violet maka, air  negatif terdapat koliform.

 

  1. 5.      Cara Kerja Penentuan Coli Fekal dan Non Fekal
    1. Inokulasikan tabung berisi laktosa cair dan tabung durham dengan koloni tipikal pada EMBA
    2. Inkubasikan dalam incubator suhu 44,5oC selama 2 x 24 jam
    3.  Amati terbentuknya gas setiap 24 jam. Terbentuknya gas dalam tabung durham menunjukan bahwa koloni tipikal itu adalah bakteri koliform yang tahap suhu tinggi dan tidal lain adalah E. coli sebagai coli fekal. Artinya bakteri tersebut berasal dari feses baru. Hal itu berkaitan dengan teori yang menyatakan bahwa E. coli tidak dapat hidup lama di luar usus manusia atau hewan berdarah panas lainnya. Sedangkan coli non fekal adalah Koliform selain E.coli yang dapat hidup di lingkungan perairan setelah keluar dari usus. Perairan mengandung coli non fekal berarti pernah tercemar tinja.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil 

Berdasarkan percobaan didapat hasil sebagai berikut :

Uji cemaran bakteri koliform

NO

SAMPEL

UJI DUGA

UJI PENETAPAN

UJI LENGKAP

1

Air isi ulang daerah Salemba Tabung 1 :+ + +

Tabung 2 :

+ + –

Tabung 3 :

+ – –

150 koloni/ml

Koloni Atipikal

Medium LBSS : terdapat gelembung gas.

Medium NA slant : tumbuh koloni.

2

Air isi ulang daerah Klender Tabung 1 :+ + +

Tabung 2 :

+ – –

Tabung 3 :

+ – –

75 koloni/ml

 

  1. B.     Pembahasan  

Sampel yang digunakan pada materi uji bakteri koliform adalah air isi ulang, dilakukan 3 uji, yaitu uji duga, uji penetapan dan uji lengkap.

Pada uji duga, dihasilkan 3 tabung pada medium LBDS yang terdapat gelembung gas, pada medium LBSS yang pertama terdapat 2 tabung saja sedangkan pada medium LBSS yang kedua hanya terdapat 1 tabung saja, maka dari ketiga medium yang masing-masing berisi 3 tabung dihasilkan  3, 2 dan 1. Jika dilihat pada tabel MPN terdapat sebanyak 150 koloni per ml. sedangkan pada sampel yang kedua didapat 3, 1 dan 1(3 tabung yang berisi gelembung gas pada medium LBDS , 1 tabung yang berisi gelembung gas pada medium LBSS yang pertama dan 1 tabung yang berisi gelembung gas pada medium LBSS yang kedua) dan dilihat di tabal MPN didapat 75 koloni per ml.

Pada uji penetapan, koloni yang dihasilkan pada agar itu ada 3 tipe, yaitu

  1. Koloni tipikal, berwarna gelap dan kilap logam di bagian tengah.
  2. Koloni atipikal, tidak berwarna gelap dan tidak ada kilap logam di tengah namun ia berwarna merah muda (pink) dan buram.
  3. Tidak keduanya.

Setelah diamati dari ke Sembilan tabung pada uji duga, diambil medium yang berisi gelembung gas terbanyak dan diinokulasi pada medium EMBA atau EA kemudian diinkubator selama 24 jam dihasilkan koloni yang berwarna merah muda (pink) dan buram, berarti ia marupakan bakteri koliform tipe atipikal.

Namun, untuk memastikan pengamatan tersebut,  dilakukan uji lengkap pada medium LBSS dan NA slant. Setelah diinkubasi selama 24 jam, dilakukan pengamatan, pada medium LBSS dilihat ada atau tidaknya gelembung gas, jika ada, berarti ia merupakan bakteri koliform dan sebaliknya. Pada medium NA slant harus dilakukan pewarnaan gram, namun uji pewarnaan ini tidak dilakukan, jadi hanya pada medium LBSS saja yang diamati. Hasil yang diperoleh pada medium LBSS adalah adanya gelembung gas. Dapat disimpulkan bahwa ia merupakan bakteri koliform yang merupakan koloni atipikal.

Menurut WHO (World Health Organization), kadar standar bakteri koliform yang terdapat pada suatu air minum adalah 10/100 air, jadi air isi ulang pada percobaan diatas tidak layak untuk dikonsumsi.

BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkas sebagai berikut:

  1. Air minum (potable water) : tidak boleh ada Coliform bacilli per 100 ml
  2. Sampel yang digunakan pada materi uji bakteri koliform adalah air isi ulang, dilakukan 3 uji, yaitu uji duga, uji penetapan dan uji lengkap.
  3. Bakteri coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal coliform.
  4. Bakteri kalioform merupakan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai indikator, dimana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah berkontaminasi untuk patogen atau tidak.
  5. Air isi ulang daerah salemba dan daerah klender keduanya mengandung bakteri tipe koloni atipikal, mengandung 150 koloni/ml untuk air dari salemba dan 75 koloni/ml dari klender sedangkan menurut WHO kadar standar bakteri koliform yang terdapat pada suatu air minum adalah 10/100 air, jadi air isi ulang pada percobaan diatas tidak layak untuk dikonsumsi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.

farmakologi jilid II, sekolah menengah farmasi 2005
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia, Jakarta.

http://kumpulanblogger uji cemaran kolioform.com

Lay, B., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lim,D. 1998. Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill book, New york.

Mila Ermila, 2005, Penuntun Praktikum Mikrobiologi.

Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti, Jakarta.